SOKOGURU - Ketertarikan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI 2026 mulai meningkat menjelang pergantian tahun anggaran berjalan.
Banyak pengusaha kini mulai mengalkulasi kebutuhan modal kerja guna ekspansi bisnis maupun penguatan arus kas, menyusul rilis skema bunga dan tenor pembiayaan terbaru.
Program ini tetap menjadi instrumen utama pembiayaan bersubsidi pemerintah dengan suku bunga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan produk kredit komersial perbankan lainnya.
Di tengah tantangan ekonomi makro, KUR BRI menawarkan stabilitas melalui skema cicilan yang terukur, sehingga meminimalisir beban finansial bagi para pelaku usaha di daerah.
Skema Bunga Flat dan Ketentuan Berjenjang
Bunga KUR BRI 2026 dipastikan berada di level 6 persen flat per tahun bagi debitur baru. Skema ini menjamin besaran bunga tidak akan berubah hingga masa tenor berakhir.
"Bunga KUR BRI 2026 berada di kisaran 6% flat per tahun bagi debitur yang baru pertama kali mengajukan pinjaman," demikian kutipan penjelasan teknis dalam informasi tersebut.
Kepastian bunga tetap ini menjadi keunggulan kompetitif, karena melindungi pelaku UMKM dari fluktuasi suku bunga pasar yang kerap menekan margin keuntungan sektor usaha mikro.
Baca Juga:
Namun, pemerintah menerapkan penyesuaian bunga bagi debitur lama. Pengajuan kedua dikenakan bunga 7 persen, ketiga sebesar 8 persen, hingga batas maksimal mencapai 9 persen.
Kenaikan berjenjang ini merupakan bentuk manajemen risiko perbankan sekaligus dorongan bagi pelaku usaha agar perlahan mampu bertransformasi menuju kredit komersial mandiri.
Efektivitas sistem bunga flat ini sangat krusial dalam perencanaan jangka panjang. Tanpa adanya fluktuasi, stabilitas cash flow unit bisnis diharapkan tetap terjaga dengan baik. (*)