SENIN, 11 Agustus 2025, tim Sokoguru.id berangkat ke Aceh untuk bertemu para pelaku UMKM inspiratif.
Tapi sebelum menyapa para pengusaha lokal, mereka singgah di PLTD Apung, kapal raksasa yang menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami 2004.
Dari dek kapal, tim menyaksikan bekas gelombang yang pernah menelan kota, retakan dan karat yang menyimpan cerita duka, sekaligus simbol ketahanan dan harapan masyarakat Aceh.
Baca Juga:
Ikuti perjalanan kami, dari sejarah yang menegangkan hingga semangat UMKM yang membara—karena di Aceh, masa lalu dan masa depan bertemu dalam satu perjalanan yang tak terlupakan.

PLTD Apung Aceh: Kesunyian yang Menyimpan Sejarah
ACEH! Di tengah hiruk-pikuk Kota Banda Aceh yang mulai hidup kembali, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung berdiri kokoh.
Kapal sepanjang 63 meter dengan bobot 2.600 ton dan mesin berdaya 10,5 megawatt ini seakan menatap diam pada jejak bencana yang melanda. Dari dek atas, terlihat deretan rumah-rumah dengan atap berkarat dan lanskap kota yang kini telah pulih, namun meninggalkan bekas luka yang tak terlupakan.
PLTD Apung bukan sekadar fasilitas listrik; ia menjadi saksi bisu dari gelombang dahsyat tsunami Aceh 26 Desember 2004, yang menewaskan lebih dari 167.000 orang di Aceh dan menggeser kapal ini sejauh tiga kilometer dari pelabuhan Ulee Lheue ke pusat kota Banda Aceh. Tangga dan railing yang telah dimodifikasi menunjukkan upaya manusia memulihkan tempat ini setelah bencana.

Baca Juga:
Masyarakat kini menapaki kembali jalan-jalan yang dulu terendam air bah. Setiap retakan di lantai dan bekas karat di besi menjadi pengingat akan kekuatan alam yang tak terduga dan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Dari sisi teknis, PLTD Apung menggunakan bahan bakar diesel dan mampu menyuplai listrik untuk ribuan rumah di wilayah pesisir, menjadikannya simbol ketahanan energi bahkan di tengah bencana.
Simbol Ketahanan dan Harapan
PLTD Apung bukan hanya saksi bisu, tetapi juga simbol ketahanan Aceh. Listrik yang mengalir dari mesin diesel ini membantu menyalakan harapan bagi warga yang kehilangan segalanya. Kehadiran anak-anak dan keluarga yang mengunjungi area ini menegaskan bahwa kehidupan berjalan kembali, sambil tetap menghormati sejarah yang tersimpan di setiap sudut fasilitas ini.
Selain sebagai monumen sejarah, PLTD Apung kini menjadi sarana edukasi. Generasi muda dapat belajar tentang dahsyatnya tsunami tanpa harus membaca buku sejarah. Angin yang berhembus di atas platform menyatukan masa lalu dan masa kini, menyentuh hati setiap pengunjung.
Foto-foto pengunjung yang berdiri di tepi railing atau menuruni tangga membawa anak-anak menapaki dek menjadi saksi visual interaksi antara manusia dan sejarah.

Baca Juga:
.
Dahsyatnya Tsunami dan Jejak PLTD Apung
Tsunami Aceh 2004 merupakan salah satu bencana alam paling mengerikan dalam sejarah modern Indonesia. Gempa berkekuatan 9 skala Richter mengguncang Samudera Hindia, memicu gelombang dahsyat yang menghancurkan pantai Aceh dan menelan ribuan nyawa. PLTD Apung, dengan panjang 63 meter, bobot 2.600 ton, dan mesin 10,5 MW, menjadi saksi bisu peristiwa itu. Dahsyatnya gelombang menyeret kapal ini sejauh tiga kilometer hingga ke pusat kota Banda Aceh.
Hingga kini, kapal diesel ini berdiri kokoh di Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh. Setiap lekuk besi dan cat yang mengelupas seakan berbisik tentang kedahsyatan alam, kehilangan, dan ketangguhan masyarakat Aceh dalam bangkit kembali. Bagi pengunjung yang menapaki dek kapal, pemandangan bukan hanya panorama kota dan pepohonan, tetapi pengingat akan kekuatan alam dan semangat manusia yang tak mudah padam.

Baca Juga:
Teknologi dan Manusia Berjalan Bersama
Sebelum bencana, PLTD Apung berfungsi sebagai jembatan energi bagi masyarakat pesisir Aceh. Dengan kapasitas 10,5 MW, kapal ini mampu menyediakan listrik bagi ribuan rumah, sekolah, dan fasilitas publik di wilayah terpencil. Kehadirannya memastikan aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat tetap berjalan. Kini, sisa-sisa cat merah yang memudar dan kuning pada railing menjadi simbol perjalanan waktu dan ketangguhan manusia menghadapi bencana.
Bendera merah putih yang berkibar di beberapa tiang kapal menegaskan identitas nasional dan kebanggaan lokal. Pipa-pipa, ventilasi, dan panel kontrol menunjukkan kompleksitas teknologi yang berfungsi menghadirkan energi, sekaligus mengingatkan bahwa manusia hanya bisa mengelola, bukan mengendalikan alam sepenuhnya.
Di bawah langit Aceh yang luas, PLTD Apung tetap berdiri sebagai saksi bisu dahsyatnya tsunami, simbol ketahanan energi, dan pengingat abadi bahwa semangat manusia untuk bangkit lebih kuat daripada gelombang apa pun.
Kesunyian yang Menyimpan Sejarah
Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung berdiri kokoh. Kapal sepanjang 63 meter dengan bobot 2.600 ton ini memiliki mesin diesel berkapasitas 10,5 megawatt, yang mampu menyuplai listrik bagi ribuan rumah di wilayah pesisir.
Sebelum tsunami melanda, PLTD Apung berfungsi sebagai pembangkit listrik terapung yang mendukung distribusi energi untuk Banda Aceh dan sekitarnya, terutama wilayah pesisir yang rentan terhadap pemadaman.
PLTD Apung bukan sekadar fasilitas listrik; ia menjadi saksi bisu dari gelombang dahsyat tsunami Aceh 26 Desember 2004, yang menewaskan lebih dari 167.000 orang di Aceh dan menghancurkan pelabuhan serta permukiman pesisir.

Sejarah dan Data Teknis PLTD Apung Sebelum Tsunami
- Panjang kapal: 63 meter
- Bobot kapal: 2.600 ton
- Mesin diesel: 10,5 MW (dapat menyuplai listrik hingga ±10.000 rumah tangga)
- Lokasi awal: Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh
- Fungsi utama: Menyediakan listrik stabil bagi masyarakat pesisir dan mendukung fasilitas publik seperti sekolah dan pasar
- Jumlah generator: 3 unit diesel utama, masing-masing mampu beroperasi secara independen
Sebelum tsunami, kapal ini menjadi jembatan energi vital bagi masyarakat Aceh.
Listrik yang dihasilkannya memastikan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari tetap berjalan lancar.
Struktur kapal yang luas, panel kontrol, pipa-pipa, dan ventilasi menunjukkan kompleksitas teknologi yang dibutuhkan untuk mendistribusikan listrik secara efisien di wilayah pesisir. (*)