Bukan Cuma Soal Gengsi, Beli Produk Lokal Ternyata Bisa Jinakkan Dampak Perang Iran-Israel!

Kontribusi kita beli produk lokal ternyata jadi penentu nasib ekonomi RI saat tensi Iran, Israel, dan AS memanas. Kok bisa? Simak penjelasan Menteri Maman.

Author Oleh: Cikal Sundana
07 Maret 2026
<p>Konflik Timur Tengah - Jangan kaget kalau harga barang impor makin gak ngotak! Efek perang Iran dan AS mulai terasa ke dompet kita. Menteri Maman spill cara bertahan yang paling logis.</p>

Konflik Timur Tengah - Jangan kaget kalau harga barang impor makin gak ngotak! Efek perang Iran dan AS mulai terasa ke dompet kita. Menteri Maman spill cara bertahan yang paling logis.

SOKOGURU, JAKARTA - Wah, Konflik Timteng Mulai Nyenggol Dompet? Maman Abdurrahman Spill Cara Ampuh Buat Bertahan!

Gak bisa dimungkiri, tensi panas di Timur Tengah ternyata efeknya sampai ke tongkrongan kita juga. 

Mulai dari harga bensin yang fluktuatif sampai nilai tukar dolar yang bikin pusing, semuanya jadi tantangan nyata buat ekonomi nasional kita saat ini.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, langsung pasang badan dan ngasih kode keras buat kita semua. 

Strategi paling masuk akal sekarang bukan cuma mantengin berita luar negeri, tapi justru fokus memperkuat apa yang kita punya di dalam negeri sendiri.

Maman menekankan pentingnya kita buat mulai memprioritaskan konsumsi produk lokal sebagai pondasi utama. 

Menurutnya, memperkuat pasar domestik adalah kunci biar ekonomi kita nggak gampang goyang diterjang ketidakpastian global yang makin nggak ketebak arahnya.

"Dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian dunia antara lain kenaikan harga minyak dan penguatan nilai tukar dolar AS. Karena itu, kita perlu memperkuat pasar dalam negeri, salah satunya melalui peningkatan konsumsi produk lokal," kata Maman dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia melihat kalau pasar Indonesia itu sebenarnya punya potensi yang gila banget kalau dioptimalkan dengan benar. 

Konsistensi kita dalam menjaga perputaran uang di dalam negeri bakal jadi penentu seberapa kuat momentum pertumbuhan ekonomi kita ke depannya.

Gak main-main, data dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga ditarik sebagai penguat argumen ini. 

Ternyata, sekitar separuh dari napas pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sumbernya ya dari konsumsi kita-kita juga sebagai masyarakat lokal.

"Kalau kita berbicara mengenai pasar Indonesia, sebagaimana disampaikan Pak Airlangga, kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 50 persen. Ini menunjukkan betapa strategisnya kekuatan pasar dalam negeri," katanya.

Pemerintah sendiri nggak tinggal diam dan terus berupaya ngasih proteksi maksimal buat para pelaku UMKM. 

Salah satu fokus utamanya adalah "bersih-bersih" pasar dari serbuan barang impor ilegal yang seringkali ngerusak harga dan ekosistem usaha.

Masalahnya, percuma aja kalau akses modal buat UMKM dibuka lebar-lebar tapi pasarnya malah dijajah barang gelap. 

Barang impor ilegal dengan harga yang nggak masuk akal itu beneran jadi musuh dalam selimut buat pengusaha lokal kita.

"Percuma pengusaha UMKM mendapatkan akses pembiayaan jika mereka tidak mampu menjual produknya karena pasar dibanjiri barang impor ilegal dengan harga yang tidak masuk akal. Pasar inilah yang harus kita amankan," ujarnya.

Makanya, sekarang koordinasi lintas kementerian lagi digeber habis-habisan buat ngerapihin tata kelola dagang. 

Pengawasan di pintu masuk barang juga diperketat biar ekosistem usaha di Indonesia tetap sehat, adil, dan bikin UMKM makin pede buat scale up.

Langkah ini diambil supaya teman-teman pelaku usaha punya ruang gerak yang lebih luas di rumah sendiri. 

Kalau pasarnya sehat, otomatis produk lokal bakal jadi tuan rumah dan nggak perlu takut lagi bersaing sama barang luar yang nggak jelas asalnya.

"Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bersama-sama membangun kesadaran bahwa jika ingin UMKM tumbuh dan berkembang, maka pasar dalam negeri harus kita jaga dan amankan," tandasnya.

Maman juga ngajak kita semua buat berhenti saling menyalahkan soal menjamurnya barang impor ilegal di medsos atau pasar. Lebih baik, kita bangun kesadaran bareng-bareng kalau masa depan UMKM itu sebenarnya ada di tangan kita sebagai konsumen.

Intinya, keberpihakan kita terhadap produk lokal adalah bentuk nyata dari solidaritas ekonomi di tengah krisis. Dengan beli produk tetangga atau brand lokal, kita secara nggak langsung lagi bantuin Indonesia buat tetep tegak berdiri.

"Saat ini pemerintah sedang melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk merapikan tata kelola perdagangan dalam negeri serta memperkuat pengawasan terhadap masuknya barang impor ilegal," pungkas Maman. (*)