KLINIK UMKM
Kenapa Orang Indonesia Suka Jualan Musiman? Ulasan Terkait Riding The Wave
Ada pelajaran marketing dari nenek moyang kita. Apakah itu? Mari kita bahas
Olehapsoro
19 Agustus 2022 09:44

Selain pelaut, nenek moyang kita adalah seorang petani. Aspek bisnis perkebunan dan pertanian begitu lekat di bisnis nenek moyang kita, ketika musim hujan maka akan menjual buah musim hujan dan saat musim kemarau akan menjual buah musim kemarau.

Ternyata, Kebiasaan nenek moyang kita berlanjut sampai hari ini, akan ada penjual payung, jas hujan, saat musim hujan dan ada pedagang air keliling sampai segala macam es di musim kemarau.

Tapi ternyatanya lagi, sudah semenjak kemerdekaan RI, kita bukan Cuma punya 2 musim. Selain karena faktor perubahan iklim, musim-musim seperti piala dunia, musim korea, musim pengabdi setan, musim bulutangkis dan lain-lain menghiasi musim kita hari ini.

Sama dengan nenek moyang kita, pada musim piala dunia akan banyak dari kita yang jual jersey, stiker, segala macam yang berbau bola bakal dijual. Musim Korea akan membuat orang-orang menjual mulai dari baju, perawatan kulit, rambut, sampai segala poster dari korea.

Gara-gara musim ini juga masyarakat kita jadi latahan. Ramai boba, jreeeeng semua dagang boba. Ramai Es Kepal, jreeeng semua gerobak tiba-tiba jadi es kepal.

Gara-gara latahan, ketika satu produk sudah tidak musim, pedagang ini mungkin akan rehat, mencari produk lain, dan ada juga yang tetap teguh meski sudah tergerus waktu, dan begitu susah untuk laku.

Tentu nenek moyang kita ada yang latahan, tapi tak semuanya begitu. Mereka adalah pembaca cuaca yang handal, pembaca musim yang pandai. Mulai dari membaca gerak bintang, sampai ke tanda-tanda alam lain seperti binatang atau pasang surutnya air.

Dalam menjalani bisnis kita hari ini, kita mungkin bisa mencontoh penerawangan cuaca dari Nenek Moyang kita yang satu lagi, Nenek Moyang kita yang seorang pelaut.

Berbagai musim nenek moyang kita lalui, bukan berarti mereka harus berganti-ganti perahu. Yang mereka ganti adalah metode mendayungnya, atau layarnya, ataupun perangai orang-orang di kapalnya.

Nah, inilah yang bisa kita contoh dari mereka. Dalam istilah bisnis hari ini lebih dikenal sebagai Riding The Wave. Produk yang ingin jaya dan lebih dekat dengan konsumernya, harus melakukan hal ini. Tidak lain tidak bukan, riding the wave berarti memberikan statement dari produk kita atas isu hangat yang sedang terjadi hari ini.

Wave (ombak) di sini berarti arus informasi yang begitu pesat. Dengan pembicaraan netizen yang gencar, kalau produk kita mampu menyiasati ombaknya dengan baik itu berarti produk kita bisa mendapat engagement atau empati yang bagus.

Tapi bukan berarti kita bisa asal menghadang ombak. Yang mesti kita pastikan adalah perahu kita adalah perahu jenis apa, awak kapalnya seperti apa, dan yang mesti dipastikan lebih lanjut, apa yang kita bawa dalam perahu itu.

Alias, kita mesti ingat kalau produk kita produk apa. Jangan kalau kita produk makanan, lalu kita menanggapi isu politik dengan cara yang norak. Itu sama saja kita pakai sampan berisi hasil bumi seperti nanas dan buah-buah lainnya lalu menghadang badai  setinggi 10m.

Kita mampu riding the wave dengan berbagai cara, tapi hal utama adalah citra bisnis kita terlebih dahulu yang harus selamat.

Kita banyak belajar dari nenek moyang kita, mau yang pelaut ataupun yang petani. Tak ada yang salah dari keduanya, tapi kita sebagai cucu yang baik harus punya pandangan yang lebih luas lagi untuk menjawab segala tantangan yang ada.

Editor Sokoguru: Ahmad Yunus
TANYA JAWAB
smiley
0/1400 Karakter
    Tidak Ada Komentar