Diduga Pemerintah Kerahkan Buzzer 'KDMP Sukses' Banjir Kritik! Netizen Tolak Impor 105.000 Unit Mobil India

Kebijakan impor 105 ribu mobil India untuk Koperasi Merah Putih banjir kritik. Netizen pertanyakan nasib industri otomotif lokal dan penggunaan uang pajak.

Author Oleh: Ratu Putri Ayu
12 Maret 2026
<p>Nasib Pabrik Otomotif Lokal - Investasi triliunan terancam! Warganet protes keras kebijakan menteri yang pilih impor mobil India ketimbang berdayakan pabrik Suzuki hingga Isuzu di Indonesia.</p>

Nasib Pabrik Otomotif Lokal - Investasi triliunan terancam! Warganet protes keras kebijakan menteri yang pilih impor mobil India ketimbang berdayakan pabrik Suzuki hingga Isuzu di Indonesia.

Kritik Pedas Netizen Soal Impor 105 Ribu Mobil India: Pajak Buat Produk Asing?

SOKOGURU, JAKARTA – Kebijakan pemerintah mengimpor 105.000 unit mobil asal India untuk Koperasi Merah Putih memicu gelombang kritik keras dari masyarakat di media sosial.

Langkah ini dinilai kontraproduktif dengan semangat penguatan industri otomotif dalam negeri yang selama ini sudah berinvestasi besar di Indonesia.

Warganet menyoroti penggunaan dana pajak yang justru dianggap memperkaya produsen luar negeri dibandingkan memberdayakan pabrikan lokal yang sudah eksis.

Berdasarkan unggahan dari akun Instagram @kabarmahasiswa.id dengan judul "Banjir kritik dari Rakyat soal impor 105.000 unit mobil India untuk Koperasi Merah Putih, diduga Pemerintah kerahkan buzzer," perdebatan panas pecah di kolom komentar.

YouTube

Isu ini semakin liar setelah muncul dugaan keterlibatan buzzer untuk meredam sentimen negatif publik terkait kebijakan impor massal kendaraan operasional tersebut.

Sejumlah netizen mulai mempertanyakan sumber pendanaan yang digunakan untuk menggerakkan opini publik di berbagai platform digital saat ini.

Salah satu komentar yang memancing diskusi panjang datang dari akun @haerulanwar_26 yang mempertanyakan transparansi anggaran publikasi pemerintah.

"Anggaran buat buzzer kalau di laporan namanya apa yaa?" tulis kutipan utuh akun @haerulanwar_26 yang kemudian memicu ratusan tanggapan lainnya.

Akun @fam_made_channel merespons, "@haerulanwar_26 kalo di perusahaan ada sih namanya anggaran komunikasi publik (mencakup iklan, promosi produk, dll)."

YouTube

Sementara itu, @hiero_van_nie memberikan sindiran tajam dengan menyebutkan istilah lain, "@haerulanwar_26 tenaga ahli mas.. 😅," tulisnya dalam kolom komentar.

Kritik tidak hanya soal buzzer, akun @randyy.wijayaa menyoroti nasib investasi pabrikan otomotif yang sudah lama membangun basis produksi di tanah air.

"Kenapa duit pajak dipake bwt kayain produsen india, menteri itu kaga mikir apa nasib pabrik suzuki isuzu ampe merek cina sdh investasi," tulisnya.

Sentimen senada disampaikan @aabahwarung yang menilai kendaraan merek Jepang yang sudah dirakit lokal jauh lebih mumpuni secara teknis dan purna jual.

Ia menyebut Carry atau L300 lebih masuk akal karena sparepart melimpah dan sudah teruji sebagai "mobil badak" untuk kebutuhan operasional di lapangan.

Keputusan mengimpor dari India dianggap merusak ekosistem lokal yang seharusnya dilindungi pemerintah melalui regulasi yang mendukung industri dalam negeri.

"Mending fokus urus pertahanan bukan malah jadi sales mobil india ngerusak ekosistem lokal kita ampe hancur," tulis akun @khansaa_humaaira dengan tegas.

Fenomena ini menjadi potret ketidakpuasan publik terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap tidak berpihak pada keberlanjutan sektor manufaktur nasional saat ini.

Hingga berita ini diturunkan, unggahan terkait kritik impor mobil India tersebut terus mendapat atensi luas dan dibagikan ribuan kali oleh pengguna internet.

Publik mendesak adanya penjelasan rinci mengenai urgensi pemilihan merek India dibandingkan mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik kendaraan yang ada di Indonesia.

Narasi mengenai penggunaan buzzer juga terus diperbincangkan sebagai bentuk komunikasi politik yang dinilai tidak sehat dalam menanggapi kritik objektif masyarakat.

Pemerintah diharapkan lebih transparan dalam mengelola anggaran pengadaan barang agar benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi pekerja dan industri domestik.

Tanpa adanya evaluasi, kebijakan ini dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk bagi iklim investasi otomotif yang sedang berupaya bangkit pasca pandemi.

Koperasi Merah Putih sebagai penerima manfaat juga menjadi sorotan terkait kesiapannya dalam mengelola unit kendaraan impor yang memiliki spesifikasi berbeda.

Diskusi di ruang digital ini menunjukkan bahwa kontrol sosial melalui media sosial masih sangat kuat dalam mengawasi setiap gerak-gerik kebijakan publik.

Diharapkan ada dialog terbuka antara pemangku kebijakan dengan pelaku industri otomotif lokal untuk mencari solusi terbaik bagi kebutuhan transportasi nasional.

Kemandirian ekonomi harusnya dimulai dari pemanfaatan produk dalam negeri, bukan dengan mempermudah masuknya produk asing yang justru mematikan pasar lokal.

Penolakan masif ini menjadi sinyal bahwa narasi "cinta produk Indonesia" harus dibuktikan melalui aksi nyata dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. (*)