Total Local Pride Ala Kreuz: Yudi Yudiantara
brand Kreuz, Sepeda yang bisa dilipat tiga. Sepeda yang bisa ditenteng kemana-mana. Hampir keseluruhan suku cadangnya adalah produksi UMKM.

Dengan meningginya harga BBM di September 2022 ini, banyak ahli bersepakat bahwa ada 2 solusi yang tersedia: naik transportasi publik atau, bersepeda. Di Inggris, orang sudah punya sepeda Brompton (sepeda lipat tiga) untuk menangani masalah ini.

Harganyapun tak main-main, kalau dikonversi ke rupiah, unit termurahnya bisa sampai 30 juta. Namun bagaimana bila ada produk ini dibuat UMKM Indonesia dengan harga sepertiganya?

Kreuz, Brompton Made In Bandung

Ini dia produk yang digagas Yudi Yudiantara. Namanya Kreuz. Sepeda yang bisa dilipat tiga. Sepeda yang bisa ditenteng kemana-mana. Tidak main-main, hampir keseluruhan suku cadangnya adalah produksi UMKM Indonesia.

Bahkan, suku cadangnya ini bisa diaplikasikan untuk sepeda sepeda Brompton yang asli. Semangat Local Pride ini begitu kental di diri Yudi Yudiantara, “Produk kita bisa, dan pasti bisa membuatnya”

Nama Kreuz sendiri berasal dari bahasa Jerman yang artinya melintas. Bagi keduanya, kata ini berarti melintasi zona nyaman. Seperti Yudi yang lama bergerak di bidang kain lukis melintasi zona nyamannya dengan membuat produk bernama Kreuz.

Kreuz bisa juga diambil dari bahasa Sunda, kareueus yang berarti kebanggaan. Kreuz juga singkatan dari Kreasi Orang Sunda. Kreuz bertempat di Jalan Rereng Adumanis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung,

Awal Mula Kreuz: Dari Tas Sampai Uji Coba Sepeda

pada tahun 2018., Yudi Yudiantara cuma berniat untuk bisnis tas sepeda. Idenya adalah membuat tas sepeda yang di-press tanpa jahitan dengan sistem quick lock mirip produk buatan Jerman.

Meski mencoba menyaingi kualitas Jerman, tas buatan Kreuz ini menawarkan harga yang lebih terjangkau ketimbang produksi China. Pendekatan ini membuat produknya laku keras.

Saat mengikuti Indonesia Cycling Festival (ICF) di Senayan, Jakarta pada tahun 2019, Yudi membayangkan tasnya terpasang di sepeda brompton yang prestisius. Sampai akhirnya, ia mengajak partner bisnisnya, Jujun untuk mengulik sendiri sepeda Brompton sebagai display tas hasil produksinya.

Mereka membongkar Brompton seri terbaru milik temannya untuk membuat prototipe pertama. Ternyata, banyak orang yang tertarik dengan prototipe ini. Bahkan, ada orang yang mau membeli prototipe pertama, sampai-sampai ada yang siap drop investasi.

Akan tetapi, kedua permintaan tersebut ditolak. Karena, Yudi dan Jujun belum mengetahui kelemahan dari produk ini, dan mereka tak ingin produknya hanya sekadar bisnis.

Semua pengerjaan dilakukan handmade dengan melibatkan banyak industri kecil rumahan, mulai dari tukang bubut, tukang cetak plastik, dan yang lainnya, dengan bahan baku dari dalam negeri, dari UMKM.

Yudi mengaku kesulitan untuk membuat sepeda yang mirip persis dengan Brompton, karena sulit mendapat sparepart-nya. Maka dari itu, ia memproduksi suku cadangnya sendiri.

Setidaknya, ada lebih dari 30 suku cadang yang dibuat Kreuz. Bahkan, beberapa sparepart bisa digunakan juga buat sepeda Brompton.

Seiring berjalannya waktu, pada awal 2020, prototipe sepeda buatan tangan itu pun jadi. Maret produksi dimulai. Awal membuka pemesanan, ada delapan order yang masuk dengan harga berkisar Rp 10-25 juta.

Yudi ngebut bikin prototype sepeda hingga akhirnya selesai pada akhir Januari. Test drive dilakukan di Solo hingga Purwokerto.

Hingga akhirnya, Yudi kewalahan menerima order karena sehari bisa 300 orang yang pesan sepeda buatannya itu. Padahal, kapasitas produksi mereka saat ini masih sedikit. Hanya sekitar 15 sepeda dalam sebulan. Sebab, sepeda itu dibuat secara handmade.

Namun di hari ini, Kreuz sudah bekerja sama dengan industri besar, dan lebih dari 30 UMKM pembuat suku cadang. Sampai hari ini, Kreuz bisa memenuhi kapasitas produksi hingga 100 unit perbulan.

Standar Keamanan

Sepeda lokal buatan Bandung, Jawa Barat, dengan merek Kreuz, kini sudah mengantongi Standard Nasional Indonesia atau SNI. Penyerahan sertifikat SNI untuk produsen sepeda lipat PT Kreuz Bike Indonesia itu, dilakukan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Selain sudah mengantongi SNI, Kreuz juga telah memasuki proses pendaftaran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), karena sepeda yang diproduksi 160 unit per bulan tersebut telah menggunakan komponen lokal hingga 70 persen.

sepeda lipat Kreuz ini sudah sukses merambah pasar ekspor sampai Malaysia, Singapura, dan Australia.

Baru beberapa tahun berdiri, Kreuz Bike sudah melahirkan beberapa produk. Namun, produk unggulan masih tetap sepeda lipat 'Brompton Made In Bandung'.

Sampai Ke Tangan Menteri, Sampai Presiden

Kreuz Bike juga sampai ke istana negara. Presiden Jokowi memesan langsung sepeda buatan anak muda Bandung tersebut. Yudi bercerita awal mula Jokowi tertarik akan sepeda buatannya. Menurut Yudi, awalnya dia dihubungi ajudan Ibu Iriana Jokowi.

"Mulai instens (komunikasi). Saya pikir hoaks, siapa sih kita, enggak kepikiran. Malah saya dipikirnya ngendorse padahal enggak, Pak Jokowi beli," kata Yudi.

Sepeda yang dibeli Jokowi merupakan sepeda lipat limited edition. Sepeda itu dirancang khusus dengan tema kemerdekaan Indonesia. Apalagi, sepeda itu memiliki aksen warna merah putih.

Selain Jokowi, tokoh lain juga membeli sepeda buatan anak Bandung ini seperti Sri Sultan Hamengkubuwono, Sandiaga Uno dan teman-temannya yang bahkan memborong 80 unit.

Kemudian Airlangga Hartarto, Agus Gumiwang, almarhum Oded M Danial, Yana Mulyana, Bupati Cianjur, Bupati Pasuruan hingga gitaris Padi, Piyu.

Menurut Yudi, rata-rata mereka membuat custom sesuai dengan keinginannya. Seperti Sri Sultan Hamengkubuwono yang memesan dengan motif keraton hingga Sandiaga Uno yang memesan dengan motif batik.

"Hampir semua custom. Value-nya di sini custom painting, part jadi konsumen melihat Kreuz sesuai keinginan. Kalau yang lain sama," kata dia.

Menilik akun Instagram Kreuz, @kreuz.pannier, rangka sepeda RI 1 Jokowi, diberi nomor frame 0001 dengan serial number KZ 202005HM.

Dengan naiknya BBM, ada dua solusinya: transportasi public dan sepeda. Terkhusus Kreuz, masyarakat bisa menggunakan keduanya, karena selain bisa sehat, sepeda ini tinggal ditenteng ketika penggunanya akan naik kereta ataupun bis.

Sebagai pemboseh sejati, Yudi merasakan apa yang ia inginkan dalam sebuah sepeda juga adalah impian bagi orang lain. Sebagai orang Indonesia, Yudi benar-benar memuliakan apa yang lokal punya, menjadi penawaran mutlak atas pasar Sepeda Indonesia.