Melihat Peluang Bisnis Batik ala Irfan Nuruddin
Irfan Nuruddin membuat sarung batik, sesuatu yang baru untuk fashion batik pria. Bagaimana Irfan membangun bisnisnya?

sokoguru.id—Lahir di lingkungan pesantren tidak menyurutkan semangat Irfan Nuruddin untuk membangun bisnis. Sebagai seorang santri, Irfan meyakini ia bisa berbisnis pula. Bukan hanya membangun bisnis yang menghidupi, tapi juga memiliki manfaat untuk orang banyak.

"Yang jadi inspirasi agar hidup saya tetap harus bekerja, dan tidak berharap dari hasil mengajar atau mengisi pengajian itu karena pesan kyai saya, KH Abdullah Faqih, Langitan ketika saya mau boyong: 'Saya harus mempunyai sumber penghasilan, jangan bertumpu pada hasil dari ngaji ataupun ngajar agar kamu tidak tamak dan ngajimu ikhlas,'" terang Irfan.

"Saya bawa kain batik hasil produksi teman-teman saya. Saya jualan kain batik untuk bahan kemeja seperti itu. Tapi jualan batik biasa itu nggak ada kepuasan. Itu tetap punya orang lain,” ungkap Irfan, “saya ingin punya produk yang jadi brand punya saya sendiri. Akhirnya saya punya ide bikin sarung batik.”

Banyak juragan batik di Solo memproduksi sarung batik. Tetapi sarung-sarung batik itu hanya digunakan sendiri, tidak menjadi konsumsi masyarakat. Irfan melihat motif batik cocok saat digunakan sebagai sarung, dan itu bisa dijadikan sebagai peluang.

“Biasanya sarung batik itu digunakan oleh perempuan. Belum ada yang membuat sarung batik untuk laki-laki. Biar yakin, saya survei beberapa pasar di Solo. Memang tidak ada sarung batik laki-laki yang dijual. Saya pikir kan sarung batik itu universal, tidak harus wanita dan anak sunat saja yang pakai,” jelas Irfan.

Irfan memulai bisnis ini di tahun 2017 menjelang bulan Ramadan. Awalnya, ia menjual sarung batik ini kepada relasi pesantren yang dimilikinya. Barulah setelahnya, pasar umum mulai menaruh minta kepada sarung batik.

“Awalnya tokoh-tokoh yang berkunjung ke pesantren mulai mempopulerkan sarung batik saya. Ada Gus Ulil, Gus Yahya, Pak Ganjar, Pak Gibran, Pak Jokowi, juga. Saya yakin, ketika tokoh berani pakai satu produk, berarti produk itu kualitasnya bagus,” kata Irfan.

Saat ini, Lar Gurda mampu memproduksi 5.000 helai sarung per bulannya. Tim produksi sarung batik Lar Gurda, mengerjakan semuanya secara manual, menggunakan cap dan canting untuk menggambar motif.

“Kendala produksi ya memang kalau lagi musim tandur sering terhambat. Rata-rata orang yang nyanting ini punya sawah juga. Jadi produksi gak bisa dipaksakan,” terang Irfan.

Untuk mencapai market yang lebih besar, Irfan memanfaatkan platform Facebook dan Twitter. Irfan memasarkan langsung produknya sendiri. Ia menyadari ada peran persona yang menambah value produknya.

“Saya sekarang punya admin juga. Admin Shopee, admin WhatsApp juga ada. Tapi kalau berdagang di Facebook sama Twitter, itu lebih efektif kalau saya yang pegang. Kadang kalau Facebook dan Twitter dipegang admin itu jadi tidak lancar jualannya,” kata Irfan.

Apa yang dilakukan Irfan adalah melihat potensi bisnis yang spesifik. Setelahnya, ia membuat pasar yang spesifik dari lingkungan terdekatnya. Terakhir, ia memanfaatkan media sosial untuk menembus pasar yang lebih luas lagi. Ketiganya menjadi kunci terbentuknya stabilitas bisnis Lar Gurda hingga saat ini.