Ide

Gelar Business Matching KemenkopUKM Fasilitasi 253 Pelaku Usaha

Dengan rata-rata pembiayaan mencapai deal sebesar Rp327 juta, start-up dari 23 provinsi mulai dikembangkan. Adapun empat klaster yang difasilitasi business matching tersebut, yakni subsektor kriya, agriculture/aquaculture, digital aplikasi, serta fesyen dan kecantikan.

Dok. Kemenkop UKM

Sokoguru, Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) memfasilitasi 253 pelaku usaha di empat klaster usaha untuk melakukan business matching (temu bisnis) dalam gelaran acara Cerita Nusantara: Unveiling the Essence of Indonesia Artistry


"Sebetulnya total peserta yang mengikuti program business matching ini mencapai 965 wirausaha atau start-up dengan total kebutuhan Rp621 miliar. Namun, setelah dilakukan kurasi dan business matching dengan sejumlah lembaga, akhirnya terpilih 253 wirausaha dengan nilai pendanaan Rp83,2 miliar," ucap Deputi Bidang Kewirausahaan KemenkopUKM, Siti Azizah, di Jakarta, Kamis (30/11) seperti dilansir dari Kemenkopukm.go.id.


Dengan rata-rata pembiayaan mencapai deal sebesar Rp327 juta, start-up dari 23 provinsi mulai dikembangkan. Adapun empat klaster yang difasilitasi business matching tersebut, yakni subsektor kriya, agriculture/aquaculture, digital aplikasi, serta fesyen dan kecantikan.


“Dengan mengundang pihak asing, kami berpesan bahwa produk kriya dan wastranya dari Indonesia sudah siap menembus pasar global,” tambahnya. 


Lebih lanjut, Siti Azizah mengatakan, kali ini dalam sektor kriya diikuti 15 peserta yang antara lain berasal dari Bandung, Banda Aceh, Cirebon, Lombok Timur, Sedang Bedagai, Tanah Datar, dan Surakarta.


Kemudian, untuk sektor agriculture/aquaculture diikuti oleh 38 peserta, antara lain berasal dari Malang, Banjarnegara, Musi Banyuasin, Pati, Ngada, Mataram, Bogor, Tangerang, dan Surabaya. 


Sementara di sektor digital aplikasi diikuti 40 peserta yang antara lain berasal dari Medan, Semarang, Denpasar, Sleman, Sukabumi, dan Garut. 


Terakhir, sektor fesyen (fashion) dan kecantikan diikuti oleh 28 peserta yang antara lain berasal dari Pemalang, Bandung, Surakarta, Jakarta Selatan, dan Banda Aceh. 

Dalam business matching itu, lanjut Siti Azizah, para wirausaha tersebut dipertemukan dengan investor agar 

bisnis mereka naik kelas. Di samping itu, mereka pun mendapat pendanaan sesuai kebutuhan. 


Subsektor kriya dan wastranya menjadi proritas yang turut dikembangkan KemenkopUKM karena tergolong sebagai klaster usaha terbesar di Indonesia. 


Tak hanya itu, Cerita Nusantara merupakan program pendampingan yang ditujukan untuk mendampingi para pelaku kriya dan wastra di seluruh Indonesia mulai dari 2021 sampai 2022 dengan mengangkat para wirausaha di subsektor tersebut. Tahun ini, ada tambahan tiga klaster, yakni agriculture/aquaculture, digital aplikasi, serta fesyen dan kecantikan.


Dengan ini, Azizah optimistis program business matching yang dilakukan KemenkopUKM bisa berkembang. Terlebih program ini sudah dijalankan sejak lama, tak hanya berlaku untuk acara Cerita Nusantara saja.


"KemenkopUKM melibat empat corporate accelerator dalam menjalankan business matching. Keempat corporate accelerator tersebut adalah MBN Consulting, ARQAM, SIGER, dan LBS Urun Dana," pungkas, Azizah. 


Business Matching adalah sebuah upaya mempertemukan antarpelaku UMKM dengan sumber pembiayaan atau pemodal dari lembaga jasa keuangan. Biasanya pertemuan bisnis tersebut sudah terjadwal antara pelaku bisnis dengan calon mitra distribusi, mitra supplier, calon mitra pendanaan dan juga investor.