Ekonomi

'Bila Potensinya Ada, Pasarnya Ada, Pembelinya Sudah Ada, Mengapa UMKM Takut Ngutang?'

Bagi pelaku usaha fesyen masalah desain sangat penting. Pelaku  UMKM yang bergerak di bidang fesyen diminta membuat trend buat tiga tahun ke depan. Dan itu ada sekolahnya bagaimana merencanakan tren ke depan.
 

Sigit Kumala, Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang mewakili dewan juri mengingatkan para finalis agar memperhatikan 5 R yakni rapih, ringkas, resik, rajin, dan rawat, jika usahanya kelak menjadi perusahaan besar. (Dok. Sokoguru/Rosmery)
 

SETELAH menghabiskan waktu hampir seharian dalam proses penjurian terhadap 20 Finalis bjbpreneur 2024 di Gedung T-Tower bank bjb Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (24/5), dewan juri pun memberi masukkan kepada para finalis.

 

Sigit Kumala, Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang mewakili dewan juri mengingatkan para finalis agar memperhatikan 5 R jika usahanya kelak menjadi perusahaan besar.

 

“Bila nanti usaha bapak ibu sudah menjadi besar atau menjadi bagian dari perusahaan besar, Anda harus melakukan perbaikan khususnya yang menyangkut 5 R yakni rapih, ringkas, resik, rajin, dan rawat. Karena kalau sudah jadi perusahaan besar, tugasnya Anda akan dituntut 5 R,” ujarnya yang menilai para finalis dari sisi Pemberdayaan Masyarakat.

 

Baca juga: The Best bjbpreneur 2024 Diumumkan pada Puncak HUT ke 63 bank bjb di Bandung

 

Perusahaan besar, lanjutnya,  akan melihat proses produksi sebuah tempat usaha. Kemudian yang dilihat pada vendor besar adalah   standar kerja. 

 

“Kami pernah punya pengalaman, quality-nya sudah masuk, tapi gara-gara waktu mengelas tidak pakai kaca mata akhirnya ditolak. Jadi, jangan sampai hal yang sepele itu menghambat produksi bapak- ibu,” imbuh Sigit. 

 

Kemudian Sigit memberi masukan dari sisi marketing. Menurutnya, saat ini eranya kolaborasi. Ia pun meminta para pemilik UMKM itu untuk tidak mengerjakan semuanya seorang diri. Di butuhkan kolaborasi dengan pihak lain.

 

Baca juga: Keseruan Team Building Finalis bjbpreneur 2024 di Lembang, Bandung

 

“Silahkan berkolaborasi.  Tadi saya lihat beberapa produk, misalnya,  kerupuk tiram Kiboy dari Aceh, kalau pakai sambalnya Simpati  Lombok Kuning dari Makassar boleh juga. Lalu rumput laut dari PT Boga Tani Makmur dari Bekasi, jangan hanya bikin mie. Kan bisa dikolaborasikan dengan tiram lalu pakai cabe, itu luar biasa. Jadi semua bisa dihubungkan,” ujarnya lagi. 

 

Jadi, menurut Sigit,  kolaborasinya tidak hanya selesai di  acara bjbpreneur, tetapi terus dikomunikasikan mencari apa yang bisa digarap. Masih menyangkut marketing, ia juag mengingatkan para finali agar  jangan cepat puas hanya dengan satu varian. 

 

“Berapa varian yang bisa dihasilkan? Tadi saya lihat sambal Simpati Lombok Kuning, saya bilang kepada pemiliknya,  buat varian sachet. Begitu juga dengan yang rumput laut mungkin bisa dikembangkan lagi,” ungkapnya.

 

Baca juga: 20 Finalis bjbpreneur 2024 Ikuti Penjurian Tahap Akhir

 

Kemudian Sigit beralih ke bidang fesyen. Menurutnya, desain sangat penting. Lalu ia menganjurkan agar pelaku UMKM yang bergerak di bidang fesyen membuat trend buat tiga tahun ke depan.

 

“ Membuat trend ke depan Itu ada sekolahnya. Dua  minggu lalu saya baru belajar dari usaha busana muslim di Bogor. Ternyata ada sekolahnya, bagaimana desain untuk tiga tahun ke depan. Karena tanpa kita sadari 52% konsumen kita segmen milinear dan gen z,” tambahnya.


 

Jangan takut ngutang

Selanjutnya, Sigit memberi catatan dari dewan juri terkait keuangan.  pelaku usaha diminta untuk tidak takut mengutang.

 

“Kalau kapasitasnya ada, ordernya sudah ada jangan berpikir modal saya tidak cukup. Tadi saya dengar dalam presentasi ada finalis yang mengatakan terhalang berkembang karena modalnya tidak cukup,” ujarnya.

 

Sigit mengatakan, kalau potensinya ada, market-nya ada, pembelinya sudah ada, mengapa UMKM mesti takut?  Ia pun menunjuk bank bjb yang bisa menjembatani. 

 

“Jadi, jangan sampai masalah permodalan, delivery Anda tidak dijalankan. Itulah sebabnya selama seharian saya jadi juri selalu itu yang saya tanyakan yakni masalah QCD (quality, cost and delivery). Karena kalau ingin menjadi bagian dari perusahaan besar atau vendor yang besar kembali ke QCD,” tuturnya..

 

Kemudian yang tidak kalau pentingnya lagi, menurut Sigit, adalah masalah  human resources development (HRD) atau sumber daya manusai (SDM) 

 

“Kita tidak bisa melepaskan diri  dari human capital. Ini aset. Ini menjadi penting seperti dalam presentasi salah satu finalis: ‘Pak sulit cari tenaga kerja.’ Adalah tugas kita untuk membina, mendampingi mereka agar menunjang bisnis  bapak/ibu melalui training dan pendampingan.”


 

Sigit kembali mengingatkan para pelaku usaha agar mengikuti aturan dinas ketenagakerjaan. “Jika Anda sudah menjadi perusahaan besar mulai mengikuti aturan dinas tenaga kerja, mulai dilihat sistem penggajian dan insentifnya, dan terakhir mengenai work  health and safety) (WHS). Jadi  tolong perhatikan kualitas produksinya berstandarisasi.


 

Urus sertifikasi

Sigit juga menyinggung aneka macam sertifikasi.  Ia mengingatkan jangan lupa mengurus perizinan. “Sudah tersertifikasi belum?Jangan sampai sudah besar baru ngurus lagi. Jadi percuma, sudah ditiru orang.”


 

Ia mengaku pernah mengajukan komplain kepada dirjen kemenkop dan UKM terkait banyaknya jenis sertifikasi. Ia minta tolong kalau untuk UMKM jangan terlalu banyak sertifikasinya, dan mungkin beberapa sertifikasinya dijadikan satu supaya pembiayaannya juga tidak mahal .

“Apalagi kalau tujuannya ekspor ke Cina, belum ngirim aja beritanya sudah dicopy,” kelakarnya.


 

Jangan pernah menyerah

 

Sebelum mengakhiri  masukannya kepada finalis, Sigit mengingatkan para finalis untuk tetap semangat dan jangan pernah menyerah. Ia pun meminjam  empat prinsip yang dipopulerkan oleh Helmi  buat UMKM yaitu, pertama, jangan punya mental atau harus punya mental jangan mau jadi orang miskin. 

 

“Itu kata Pak Helmi, prinsip orang Cina itu  jangan mau jadi orang miskin. Orang Cina itu tidak takut mati, tetapi takut miskin. Jadi semangatnya itu,” imbuhnya.

 

Prinsip kedua, jangan pernah mengeluh. Sigit membagi pengalaman binaannya yang berbisnis transportasi terus pindah ke sepatu. Sewaktu  pandemi usahanya tidak laku, lalu berganti ke bisnis makanan yakni rendang dan sukses. 

 

“Dua bulan lalu saya bertemu, dia bilang  bisnis rendangnya lancar dan bisnis sepatunya juga mulai naik. Nah kita tidak tahu di bisnis ini kalau punya keahlian ternyata bisa dikembangkan semua. Di bisnis perubahan bisa begitu cepat, karena faktor geopolitik dan lain sebagainya,’ imbuhnya..

 

Ketiga, jangan menarik simpati orang. Setelah gagal lalu menarik simpati. “Saya gagal tolong dibantu dong…nggak ada itu. Kita harus selalu mengedepankan kemauan kita yang kuat, fokus dan berusaha keras, Tuhan pasti memberi jalan. (Ros/SG-2)