Yayan Hadian Kawal Tani Kelor di Pekarangan Cimenyan
Tani pekarangan mengubah lahan tak terpakai menjadi lahan produktif, namun itu mesti dikawal agar tani pekarangan semakin menghasilkan.

Tani pekarangan menjadi satu tren yang menyelamatkan keluarga di masa pandemi. Konsepnya sederhana, yakni memanfaatkan tanah pekarangan yang tak terpakai menjadi lahan produktif. Di lahan itulah berbagai bibit tanaman disebar. Hasilnya tentu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dinaungi Yayasan Odesa Indonesia, Yayan Hadian mengawal tani pekarangan di Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. Di sana, Jajang—panggilan karib Yayan Hadian—berikan ilmu pembibitan kelor hingga pemanenan kepada masyarakat Kec. Cimenyan.

“Penanaman kelor di Cimenyan ini awalnya tahun 2018. Awalnya pada ga mau ikut nanam, mikirnya kelor mah bukan sayuran yang umum dimakan, ngejualnya juga susah,” papar Jajang, “kelor juga belum begitu terkenal buat berkhasiat,” sambungnya.

Padahal kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi. Hasil dari penelitian membuktikan bahwa kelor memiliki vitamin A 4x lipat lebih banyak dari wortel, vitamin B 4x lipat daging sapi, vitamin C 7x lipat jeruk, kalsium 14x lipat susu, kalium 3x lipat pisang, zat besi 3x lipat jamur, asam amino 1,5x lipat telur, dan antioksidan 37x lipat anggur.

Namun sulit untuk menjelaskan manfaat kelor dengan semua angka-angka tersebut. Jajang menemukan cara mujarab untuk menjelaskan manfaat kelor. Ia berikan daun kelor untuk dikonsumsi masyarakat Desa Cimenyan yang sakit/tidak fit. Sambil memberikan daun kelor itu, Jajang menjelaskan bahwa kelor ini bukan penyembuh.

“Kelor ini bukan obat yang bisa langsung menyembuhkan. Di sini juga dijelasin, kesehatan mah munculnya dari pola hidup sehat sama makanan bergizi. Nah kelor ini yang bergizi untuk dikonsumsi,” papar Jajang.

Kisah yang paling ajaib terjadi kepada salah seorang pembibit kelor asuhan Jajang, Ayi Wahyu, seorang buruh harian lepas yang menyambi jadi pembibit kelor di pekarangan rumahnya. Ayi Wahyu terkena stroke hingga tak bisa bekerja di proyek.

Berbagai usaha pengobatan telah dilakukan oleh Ayi Wahyu. Tapi yang membuat tubuhnya kuat adalah rutin mengonsumsi kelor.

“Iya, Pak Ayi Wahyu itu terkena stroke. Kondisinya parahlah itu, udah ga bisa ngapa-ngapain, repot. Tapi Pak Ayi Wahyu rutin makan kelor. Akhirnya jalan setahun badannya udah sembuh lagi. Sekarang juga udah kerja di proyek lagi,” jelas Jajang.

Sejak cerita itu tersebar, masyarakat mulai menanam kelor di pekarangan rumah mereka sendiri. Bibitnya diberikan oleh Yayasan Odesa Indonesia melalui Jajang. Saat memberikan bibit, Jajang menjelaskan tujuan penanaman ini untuk dimakan sendiri.

“Tujuan utamanya memang untuk dikonsumi sendiri dulu. Kan sayang juga ada lahan pekarangan yang tidak terpakai, contohnya punya Pak Asep. Daripada kosong aja mending ditanami kelor, jadi bisa produkif. Minimal mah sayuran untuk dapur sendiri tinggal petik di pekarangan,” kata Jajang.

Saat ini ada tiga petani pekarangan yang diasuh oleh Jajang. Mereka adalah Asep, Ayi Wahyu, dan Tardi. Semuanya membibitkan kelor dari biji hingga usia 6 bulan. Kemudian setelah 6 bulan, Odesa membeli bibit-bibit itu untuk dijual kembali ke kota. Konsep tani pekarangan yang diasuh Jajang memberikan manfaat bagi masyarakat Cimenyan.

“Jadi setelah bibit disebar, kita ajarin dulu masyarakat gimana cara mengurus kelor. Karena mengurus kelor itu perlu ketekunan. Tanah yang ditanami kelor tidak boleh terlalu lembab, tapi tidak boleh terlalu kering juga,” terang Jajang, “jadi kita dampingi terus sampai masyarakat mahir. Ga langsung dilepas gitu aja,” lanjutnya.

Asep, salah satu petani pekarangan asuhan Jajang, mengaku senang menanam kelor. Ia yang merupakan buruh harian lepas akan menjadi pengangguran begitu proyek rampung. Tetapi dengan tani pekarangan, sedikit demi sedikit, ia bisa mengisi kekosongan pendapatan.

“Saya dapat tanah pekarangan ini dari orang tua, warisan orang tua. Awalnya tanah ini tidak terpakai sama sekali, kosong saja. Tapi pas ada Odesa, sama kang Jajang ini diajak nanem kelor di pekarangan. Akhirnya saya beresin, terus ditanam kelor sedikit-sedikit. Alhamdulillah hasilnya bisa buat kebutuhan sehari-hari,” papar Asep.

Seminggu sekali, Jajang berkeliling ke rumah petani pekarangan asuhannya. Di sana Jajang mengecek kondisi seluruh tanaman kelor, baik yang masih bibit maupun yang sudah besar. Semuanya mesti dicek agar menjadi tanaman yang kuat, sehat, dan produktif.

“Harga bibit kelor itu beda-beda, tergantung sama kualitas daun, kualitas batang, sama kualitas akar. Kalau ada cacat sedikit pasti turun harganya. Jadi saya cek seminggu sekali biar semua tanaman kelor punya tani pekarangan bagus semua hasilnya,” pungkas Jajang.

Jajang mengawal perkembangan petani pekarangan di Cimenyan dari awal hingga akhir. Tak sampai di sana, Jajang mengawal pembangunan ekonomi desa dari ruang terkecil terlebih dahulu, ruang keluarga.