Naufal Fajar Gumelar: Sulap Sampah Plastik Menjadi Gitar Bernilai Ekonomis
Berkenalan dengan Fajar, salah seorang pengrajin yang berhasil membuat gitar dari sampah plastik sekali pakai.

Sokoguru.id – Pembenahan sampah plastik secara global, merupakan fokus utama yang harus siap diterapkan di tengah masyarakat. Sebab, di setiap rumah tangga akan selalu menghasilkan tumpukkan sampah, terkhusus plastik. Konsumsi sekali pakai, menjadi penyebab utama mengapa sampah terus menjadi problema yang terus berulang hingga hari ini.

Pengolahan sampah plastik yang baik, diperlukan untuk mereduksi angka penyebaran sampah di dunia. Sampah plastik memiliki kandungan yang tahan akan berbagai kondisi lingkungan, yang menjadikannya sulit untuk terurai di dalam tanah.

Hasil studi menyatakan, bahwa ada sekitar 11% sampah plastik yang masuk ke dalam lingkungan setiap tahunnya. Sekitar 23-24 juta ton metrik sampah butuh setidaknya 60 hingga 70 tahun sampai itu terurai. Kampanye mengurangi sampah plastik, jadi upaya yang terus dilakukan seiring dengan volumenya yang kian bertambah.

Metode 3R atau yang biasa dikenal dengan Reduce, Reuse, dan Recycle selalu dikampanyekan, agar pemanfaatan sampah plastik dapat menjadi barang bernilai ekonomis bagi masyarakat. Misal, dengan berbagai metode recycle, sampah plastik bisa dimanfaatkan untuk pengolahan lebih lanjut.

Contohnya, banyak sekali produk yang bisa dibuat menjadi sesuatu bernilai ekonomis. Barang kebutuhan sehari-hari, hingga produk artistik, seperti yang dibuat oleh Naufal. Ia merupakan salah satu pengrajin olahan sampah plastik, yang dibuat menjadi sebuah gitar.

Menyikapi fenomena sampah hari ini, Naufal Fajar Gumelar, membuat sebuah produk daur ulang Bernama After Waste. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah gitar yang ia olah dari kumpulan sampah plastik.

Memulai After Waste

Naufal memulai bisnisnya dari percobaannya membuat produk kreatif berbahan material plastik. “Saya tertarik untuk mencoba material limbah plastik ini untuk dijadikan sebuah bahan baku utama,” jelasnya.

Ia tahu bahwa plastik merupakan material kuat serta tahan lama kaena terbuat dari bahan-bahan yang tak mudah hancur. “Dari situlah saya mulai memeperhatikan produk-produk yang terbuat dari limbah plastik ini, memang sangat berpeluang untuk dijadikan bisnis,” tambah Naufal.

Mahasiswa jurusan Desain Produk Institut Teknologi Nasional itu, melangkah lebih maju memproduksi sesuatu yang dapat menjadi gebrakan di dunia pengolahan sampah plastik. Gerakan Zero Waste pun, ia dalami sebagai landasan membuat inovasi berkelanjutan tersebut.

“(Bisnis ini) mungkin lebih ke arah produk terbaru, apa yang menggebrak dan yang membantu mengurangi sampah dan menjaga lingkungan. Karena yang kami lihat, lebih fokus ke arah bagaimana caranya mengeluarkan output sebuah produk yang kemunginannya tidak akan jadi sampah Kembali,” tutur Naufal.

Bahkan, idenya membuat gitar dari olahan sampah plastik, ia dapatkan dari Gerakan Zero Waste yang ada di kotanya, Cianjur. “Perihal sampah masih menggunung dan untuk di kota kami sendiri ada komunitas Zero Waste yang di mana mereka bergerak dengan cara literasi dan sosial untuk mengajarkan kepada masyarakat gaya hidup sehat dan bebas sampah,” ucap Naufal.

Dari komunitas Zero Waste yang ada di daerahnya, Naufal menjadi tertarik untuk terus mengembangkan produk olahan plastik buatannya. Salah satu kegiatan yang ia ikuti untuk mengenalkan produknya yakni dengan kolaborasi yang ia lakukan dengan komunitas Zero Waste, dalam peringatan hari bumi pada 22 April lalu.

Namun, ia mengaku tak mengikuti komunitas tersebut, dengan alasan lebih fokus kepada tujuannya dalam bisnis berkelanjutan yang ia tekuni. “Untuk saat ini, saya pribadi tidak mengikuti komunitas Zero Waste karena goals nya mempertahankan output produk dari limbah plastik,” tuturnya. Walau demikian, niatnya untuk bekerjasama dengan berbagai komunitas, sudah menjadi tekad yang ingin ia lakukan.

Tak akan Jadi Sampah Lagi

Fenomena sampah hari ini, menjadi pemicu utama Naufal meluncurkan solusi berupa produk yang ia buat. Kreasi dari sampah plastik miliknya, menjadi sebuah inovasi yang bisa dikembangkan, utamanya di dunia permusikan.

“Pemicunya bikin produk yang tidak jadi sampah lagi sih, kaya furniture dan alat music. Mungkin itu salah satu Langkah awal ya buat bikin produk yang nantinya ga gampang rusak.”

Ia menuturkan, bahwa produk yang ia buat sudah terdapat di beberapa wilayah lain. Namun, tetap ada ciri khas yang membedakan antara produk yang ia buat dengan produk yang dikembangkan di daerah lain. “Di wilayah lain banyak juga yang bikin brand seperti ini dan yang membedakan kami dan yang lain, (berupa) desain dan produk yang mungkin diusahakan tidak akan menjadi sampah. Minimal untuk rusak pun, dalam jangka waktu panjang.”

Segi daur ulang Kembali, baginya merupakan praktik yang tak hanya mampu menanggulangi plastik, namun harus memiliki nilai jual tinggi, diikuti nilai seni yang tinggi di bidangnya.

Walau demikian, produknya masih berpotensi menjadi limbah gitar atau sampah yang sewaktu-waktu bisa dibuang. Namun, ia menjamin jika produk yang ia buat akan tahan lama. Tak hanya itu, ia membuka service sendiri jika produk gitar miliknya rusak.

Mengolah Sampah Dari TPA terdekat

Plastik yang ia guakan sebagai bahan baku pembuatan gitar, ia dapatkan dari tempat-tempat pembuangan sampah yang ada di dua Kecamatan di Cianjur. Pertama, ia dapatkan dari pusat pembuangan sampah Kecamatan Pamoyanan, tepatnya di jalan KH. Asnawi.

Di segi penyortiran, ia memilah sampah dengan jenis plastik yang beragam. Mulai dari jenis HDPE, LDPE, dan PET. Plastic-plastik tersebut kemudian ia sortir sesuai dengan warna yang sama. “Karena sejauh ini, biasanya di tempat penampungan atau pengepul, pasti (plastik) selalu dicampur,” utasnya.

Untuk dapat membuat satu buah gitar, ia membutuhkan sebanyak 4kg plastik. Namun, Naufal beranggapan, jika pihaknya membeli sekitar 122kg setiap satu bulan. “Dan untuk target kami selanjutnya, dalam satu bulan pengen 100kg yang terolah,” tambah Naufal lagi.

Naufal juga beralasan, bahwa inspirasinya memilih sampah sebagai olahan bagi produk gitarnya ialah karena gitar berbahan limbah plastik, tergolong unik khususnya bagi industri pergitaran. “Kepikiran kenapa gitar, karena yang suka musik itu banyak ya, terus bahan yang digunakan tidak seperti gitar pada umumnya, jadi ada keunikan tersendiri.”

Menurutnya, pemanfaatan sampah plastik di industri gitar masih jarang ditemui. Sehingga ia memberanikan diri memulai mengolah limbah-limbah plastik tersebut menjadi alat musik petik, seperti gitar.

Produksi gitar miliknya, ia sebut sudah melalui proses konsultasi dengan salah seorang perajin gitar di Bandung, Joko. Menurutnya, gitar dengan material berbahan limbah plastik ini dapat menjadi produk pesaing unggul. “Kami sempat ngobrol juga sama pembuat gitar asli Bandung, menurut mereka material limbah plastik ini bisa bersaing kalo dari karakter ditambah warna yang unik.”

Sebagai pembuktian, hasil karyanya ia coba ke beberapa musisi lokal Bandung seperti gitaris band Mahkota dan gitaris Mustache and Beard. Kedua gitaris dari band kenamaan lokal tersebut berkata, bahwa material gitar sudah bagus.

“Kalo dari bahan, oke, kata mereka. Tapi karena musisi, paling tinggal ganti pick up/part gitar yang lebih proper,” katanya. Nilai lebih lain ialah, konsumen bisa memesan gitar dengan desain maupun part sesuai dengan permintaan.

Membuat gitar dari limbah plastic, membutuhkan proses yang cukup Panjang. Mulanya, Naufal menyortir plastik hasil penjaringan tempat pembuangan. Kemudian plastik yang sudah disortir, ia cacah hingga plastik terpotong menjadi bagian-bagian kecil.

Plastik yang sudah tercacah, kemudian melewati proses pencucian. sebelum proses perekatan dengan oven, puing-puing plastik tersebut harus ditimbang sesuai dengan kebutuhan produksi. Setelahya, barulah plastic-plastik hasil penimbangan itu, dioven dengan suhu sekitar 180 derajat Celsius.

setelah proses pemanggangan, badan gitar yang sudah terbentuk harus melalui dulu proses pendinginan, agar komponen plastik pada badan gitar mengeras. Kemudian, barulah proses assembling yakni perakitan badan gitar dengan bagian neck.

 

Tak hanya gitar, Naufal mengungkapkan bahwa ia ingin mengembangkan sayap bisnisnya dengan mengolah limbah plastik menjadi produk fashion. “Rencananya pengen ke arah fashion, yang terdekat mungkin ke tas ya,” terang Naufal. Bahkan, ia juga turut memproduksi coaster, yakni sebuah tatakan gelas dari olahan sampah plastik.


Naufal menambahkan, jika dirinya sudah memiliki desain tas yang ia rancang juga dengan bahan sampah plastik. Kedepannya, ia merencakan memasarkan produk tasnya pada konsumen. Produk tersebut, ia pasarkan lewat E-commers dan akun Instagram @after_waste.


Ia memaparkan, adanya After Waste, menjadi jalur akhir dirinya mengembangkan sebuah solusi pengolahan sampah plastik. Wacana keberlanjutan, akhirnya melahirkan inovasi, tak hanya bernilai bisnis tinggi, tetapi menjawab persoalan lingkungan, yang sudah terhimpit sampah plastik.