Mainan Kayu Asli Indonesia : Solusi Masalah Lingkungan dan Tumbuh Kembang Anak
Asep Sodiqin, membuat mainan yang jauh lebih ramah anak dan lingkungan dari kayu limbah. Kiprahnya membuktikan sentuhan inovasi kreatifitas.

Sokoguru.id – Ada banyak industri mainan anak yang membuat berbagai jenis mainan, yang bernilai edukasi hingga seni. Secara alamiah, anak-anak dan mainan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Hal tersebut dikarenakan, dalam tumbuh kembang anak, mainan merupakan sebuah perantara yang bisa melatih motoric anak.

Data menyebutkan, ada sekitar 11,35% jumlah dari anak-anak usia dini dari keseluruhan jumlah penduduk di Indonesia. Tak heran banyak sekali produk mainan anak-anak yang memasuki pasar nasional. Namun, masih didominasi oleh produk impor.

Material yang dibuat antara lain yaitu plastik, karet dan kayu. Kebanyakan mainan dibuat dengan proses pabrikasi yang terkadang tidak mementingkan keamanan bagi anak maupun lingkungan.Walaupun demikian, ada juga produsen yang menjual mainan hand made. Salah satunya adalah Boqin Toys.

Boqin Toys mengenalkan produk mainan karakter anak-anak dari limbah kayu yang dibuat murni dengan tangan atau hand made. Berbeda dengan produk lainnya, Boqin Toys menghadirkan desain yang menarik untuk dimainan anak-anak.

Mainan tersebut dibuat dengan menggunakan limbah kayu syarat kualitas tinggi. Asep Sodiqin, selaku pemilik sekaligus perajin, berkata bahwa mainan buatannya merupakan hasil dari limbah kayu.

Awal mula: Senang Melihat Anak-Anak bermain

Asep mengutarakan, jika memulai bisnis wooden toys ini karena kesenangannya melihat anak-anak bermain, “Awalnya saya iseng aja. Dan saya senang juga kalau lihat anak-anak main. Jadi saya berpikir gimana kalau saya bisnis mainan anak-anak,” tutur Asep.

Boqin toys sendiri dibangun sekitar tahun 2017. Kala itu Asep mulai fokus berjualan mainan anak dari kayu ini. “Jadi saat dulu saya jadi supir, saya suka iseng-iseng ukir kayu kecil kalau nunggu (penumpang),” katanya.

Asep belajar ukir-mengukir tidak melalui Pendidikan formal, namun ia mengaku belajar autodidak. Ketika usahanya mulai berjalan, ia cenderung belajar membuat karakter yang ia riset sendiri melalui laman internet. “Mulai dari 2017, langsung fokus kesini aja. Coba saya bikin satu karakter, saya browsing karakter yang lain,” jelas Asep.

Proses Membuat Mainan Kayu Limbah

Dalam seminggu, Asep bisa memproduksi sekitar 50 piece mainan kayu. Dari ke 50 mainan kayu tersebut, ada berbagai karakter yang bisa ia jual. Namun, terkadang ia menurunkan produksi karena kekurangan sumber daya secara teknis.

“Kalau sampai jadi itu kan berhubung saya itu ngerjain sendiri, yang bantuin paling mentok di 50 pcs seminggu. Dari senin-jumat. Kalau sabtu-minggu kan harusnya udah beres dikirimin. Jadi maksimal 50 pcs kalau sendiri,” jelas Asep.

Jika dalam perhitungan, dalam sehari bisa memproduksi 10 piece mainan jika terhitung hingga ke dalam tahap finishing. Karena ia mengakui, bahwa mainan yang ia buat adalah murni Asep saja yang mengerjakan.

Akibat dari tenaga ekstra yang harus dikeluarkan Asep, kali ini ia menggunakan sistem maklon (pengerjaan produksi) dengan jasa lain. Biasanya, ia memberikan bahan kayu non olah, untuk diproses menjadi part-part mainan. Kemudian untuk finishing ia yang mengerjakannya.

Tak hanya itu, dalam membuat mainan tersebut, membutuhkan Teknik khusus yang betul-betul memakan waktu Panjang. Karena jenis dari mainan Boqin Toys sendiri merupakan mainan bergerak. Jadi tak heran jika harus menggunakan Teknik tersendiri dalam membuatnya.

Asep mengakui, jika ide yang ia dapatkan terinspirasi dari mainan kayu luar negeri yang pernah dipamerkan oleh kawannya. Ia melihat, jika mainan kayu dari luar, tidak memiliki ke khasan atau sesuatu yang berbeda dari mainan kayu yang lainnya.

“Ide sendiri ya. Soalnya yang saya lihat mainan-mainan dari luar negeri itu kan cuman potongan2 doang gatau gak ada gerakan2nya. Cuman saya pikir agak bagus kalau jalannya agak aneh (mainan bergerak). Akhirnya saya coba, pelajari sampai sekarag kebanyakan mainan saya kaya gitu gerakannya.”

Dalam membuat mainan dengan Teknik yang tinggi tersebut, awalnya Asep hanya mengerjakannya dengan menggunakan gergaji saja. Namun, ia akui jika hanya memakain egrgaji saja, proses membuat mainan kayu tersebut akan lebih sulit dilakukan.

“Kalau buat pemakaian pake mesin itu kan saya awalnya potongnya pake gergaji gitu. Nah terus kan kalau ada bahan kayu yang tebel-tebel kan itu agak susah ya. Jadi makannya saya coba beli mesin ukir,” jelasnya. ia menambahkan, jika mesin ukir khusus mainan kayunya itu, ia dapatkan dari modal ia sendiri.

Kebanyakan, mainan kayu Boqin Toys dibuat secara manual dengan tangan. Seperti membuat pola desain mainan kayu, proses ukir, hingga pengamplasan dan pengecatan, ia lakukan secara manual. Sedangkan hanya dalam proses finishing seperti memotong bagian-bagian kayu nya saja yang diproses menggunakan mesin.

“Makan waktu bikin satu juga dari pengamplasan, pengecatan, semua kan masih manual kebnayakan. Paling kalau pake spray gun (pengecatan) itu kalau warnanya satu blok. Kalau warnanya ada yang campur itu kalau dikasih aksen warna dikit-dikit kan pake kuas manual.”

Dalam produksi mainan kayu miliknya, ia menggunakan beberapa jenis kayu yang Sebagian besar merupakan jenis kayu dari limbah buangan. Jenis-jenis kayu yang biasa dia gunakan antara lain Pinus, Mahoni, MDF (Medium Densitif Fiber) hingga Kayu Palet.

Menurutnya ketiga jenis kayu yang ia sering gunakan terebut, memiliki tekstur dan karakteristik kayu yang lebih mudah diolah, juga lebih lunak untuk dipotong. “Kayu limbah dari kayu palet dan jenis pinus,” tukas Asep.

Menurutnya, tak semua jenis kayu bisa diolah menjadi mainan. Karena, ada beberapa jenis kayu yang memiliki karakter keras seperti salah satunya kayu Jati. Namu, tidak menutup kemungkinan kayu jati tidak bisa diolah menjadi mainan.

“Jadi gak semua kayu bisa dipakai untuk membuat mainan. Jadi kalau yang kecil-kecil saya biasa pake palet. Ada dari kayu MDF, pinus, mahoni. Kalau jati bisa sih cuman lebih susah dan lebih mahal.”

Karena, biasanya kayu Jati lebih sering digunakan dan diolah menjadi produk-produk furniture yang memanfaatkan karajteristik pohon yang kuat. Biasanya, sering dijadikan untuk barang-barang interior rumah seperti kursi, meja, lemari, pintu dan sebagainya.

 

Ada Harga Ada Kualitas

Bercermin dari produksinya yang cukup sulit, Asep menetapkan harga yang sesuai dengan kualitas. Untuk satu potong mainan sendiri, Asep patok dengan harga mulai dari 100 ribu Rupiah. Ia mengatakan, jika harga yang ia tetapkan tersebut sesuai dengan proses pembuatan mainan yang Panjang.

Di samping itu, ia menyatakan jika banyak pelanggan yang mengeluhkan jika harga untuk satu potong mainan kayu Boqin Toys terlalu mahal. Namun Asep berdalih, jika mainan yang ia pasarkan tersebut sudah mengantongi kualitas yang terjamin juga.

“Banyak yang menawarkan untuk turun harga tapi pak asep tetap tidak menurunkan harga. Rata-rata dari 100 keatas Alasannya karena saya gak mau jual produk murah-murah karena kan dari proses, pengerjaan juga makan waktu juga. Akhirnya bertahan aja di harga segitu,” tutur Asep.

Selain itu, banyak konsumen juga yang menganggap remeh, jika mainan dari kayu tidak seharunsya dihargai mahal. “Padahal kan dari teknis juga susah karena hand made. Jadi saya buat turunin harga belum bisa,” keluh Asep.

Untuk distribusi sendiri, Asep baru hanya menjual Boqin Toys miliknya di salah satu toko yang beridri di Mall Paris Van Java, Bandung. Ia menagku hanya di sana saja ia menjual, alasannya karena ia terhalang dengan biaya sewa yang tinggi. “Takutnya kan kalau di yang lain itu, sistemnya beda lagi ya (sistem sewa) jadi saya belum berani,” ucapnya.

Tak hanya itu, Asep juga sering menitipkan produknya untuk dijual Kembali di salah satu toko mainan di mall Cihampelas Walk (Ciwalk) Bandung, yang dimiliki oleh salah satu teman dekatnya. “Produk saya Dititipin (juga) di salah satu gerai di ciwalk terus kalau ada pameran-pameran, kadang suka dititipin ke temen. Saya yang suplai barang ke temen. Jadi beli putus. Jadi dia yang beli barang terus dia yang jual.”

Dalam segi distribusi, ia mengaku sudah pernah ada yang memesan hingga keluar Bandung. Seperti Jakarta, Surabaya. Bahkan pernah ada konsumen yang memesan produk mainannya dari Sumatera. “Kebanyakan dari luar kota sih. Tapi itu khusus yang perorangan aja,” tambahnya.

Konsumen banyak mengenal produknya melalui pemasaran secara daring di Instagram. Ia hanya memanfaatkan platform instagram untuk memasarkan produknya, sebab ia belum mampu mengontrol pemasaran melalui platform lainnya, karena kurangnya tenga kerja.

Dalam mempertahankan produk yang ia miliki, Asep mengaku pernah jatuh bangun khususnya saat pandemi mulai menggerogoti ekonomi di Indonesia. Usaha miliknya jelas terpengaruh. Bahkan, dalam penjualannya saja, laku hanya sebanyak 1 piece dalam jangka waktu satu bulan.

jelas, Asep pun harus memutar otak untuk membangun Kembali produk yang ia punya tersebut. “Jelas berdampak. Awalnya pas pandemi, (toko) di buka pun kan sepi. Pembeli gak ada, pengunjung gak ada. Jadi beban juga untuk bayar gaji karyawan, biaya operasional,” jelasnya. ia mengaku sempat mengalami kerugian fantastis sebesar 90% dari usahanya akibat pandemi.

Hingga pada akhirnya, bisnisnya mulai merayap Kembali Ketika pemerintah mengeluarkan pelonggaran kebiijakan untuk para UMKM dan kegiatan ekonomi lainnya. “Jadi ya semenjak aturan udah dilonggarin mah bisa lah. Bisa diup lagi.”

Dari produksinya membuat mainan dari limbah kayu, Asep bahkan pernah meraup keuntungan hingga mencapai 30 juta perbulan. Padahal, untuk industry mainan anak-anak di Indonesia sendiri, masih didominasi oleh produk mainan impor. Tetapi Asep dan Boqin Toys miliknya, tetap bertahan menjual tradisi mainan berbahan limbah kayu untuk edukasi anak-anak.