Cucu Suryaman Perjuangkan Legalitas Senapan Angin
Produksi senapan angin mesti dilakukan berdasarkan izin yang berlaku. Cucu Suryaman memperjuangkan itu untuk pengrajin di Cipacing.

Masyarakat Cipacing cukup lama berkawan dengan senapan. Mereka mengisi hari dengan merakit senapan angin. Pucuk demi pucuk senapan dihasilkan untuk makan. Kini senapan angin ibarat napas bagi warga Cipacing.

“Sekitar tahun 60-an, kakek saya mulai membuat senapan angin, saat itu sudah bikin model DIANA. Kakek saya generasi pertama pengrajin senapan angin di Cipacing. Bapak saya yang pertama membuat toko senapan angin di jalan Cipacing ini. Saya sendiri mulai jadi pengrajin tahun 1998,” ungkap Cucu Suryaman, Ketua Koperasi Cipacing Mandiri (Kocima).

Catatan sejarah itu membuat nama Cipacing sohor. Pengrajin senapan dicetak dari zaman ke zaman, mengukuhkan status Cipacing sebagai penghasil senapan angin unggulan. Namun di balik kegemilangan itu Cipacing tak sekali dua kali mengalami jatuh bangun.

Salah satu masalah terbesar adalah para pengrajin yang membuat senjata api ilegal. Prinsip kerja yang mirip, bahan baku yang sama, serta permintaan senjata api dari dunia gelap membuat pengrajin tergiur.

“Memang di Cipacing ini suka ada yang bikin senjata api, pastinya ilegal, karena izin yang sah itu hanya senapan angin dengan peluru 4,5 mm. Jadi dulu di sini polisi sering merazia, hampir seminggu sekali razia ke setiap bengkel,” terang Cucu.

Saat razia, para pengrajin tak bisa bekerja dengan tenang. Semua serba di bawah tekanan. Gerak-gerik para pengrajin senapan angin menjadi tidak leluasa. Akhirnya banyak pengrajin yang berhenti produksi sementara.

“Kita sebetulnya orientasinya sama-sama buat makan. Kita sama-sama pengrajin. Tapi kan ada legal aspect yang harus diperjelas sebagai acuan produksi. Nah, legal aspect itu hanya memperbolehkan produksi senapan angin untuk olahraga. Jadi kalau pengrajin senjata api sudah pasti ilegal,” kata Cucu.

Seperti yang kita ketahui, mengajukan izin produksi mesti memenuhi beberapa syarat. Beberapa di antara syarat itu adalah memiliki Nomor Izin Berusaha (NIB) dan kelayakan tempat produksi.

“Kalau aturannya sendiri, izin produksi itu harusnya ada di tiap ruang produksi. Tapi kan di Cipacing ini tidak bisa disamakan begitu saja. Kita ini home industry. Jadi izin produksinya mesti kolektif,” jelas Cucu.

Setelahnya Cucu mengusulkan pembentukan koperasi. Koperasi bisa menjadi sebuah wadah yang menghimpun seluruh pengrajin senapan angin di Cipacing. Koperasi pun mengarah pada aktivitas ekonomi. Di sisi lain, koperasi bisa menjadi pintu izin produksi senapan angin.

“Dibentuk koperasi tahun 2013, tapi mulai eksis lagi setahun ke belakang (tahun 2020-2021). Ya tugasnya koperasi untuk menghimpun pengrajin dan mengajukan izin produksi senapan angin. Izin ini kolektif dan sah untuk seluruh anggota koperasi,” jelas Cucu.

Untuk mendapatkan izin itu, koperasi mesti mendapatkan rekomendasi dari Polres, Polda, hingga akhirnya ke Mabes Polri. Izin itu mesti diperpanjang tiap tahun, agar para pengrajin senapan angin bisa terus berproduksi, dan tidak lagi membuat senjata api ilegal.

Kocima berperan untuk memenuhi legal aspect pengrajin senapan angin. Setelahnya, Kocima juga memiliki peran untuk memberdayakan mantan pembuat senjata api ilegal.

“Memang kita juga punya mimpi tidak ada lagi yang membuat senjata api. Jadi kita himpun para mantan pembuat senjata api untuk membuat senapan angin saja. Kita berikan pengawasan juga penyuluhan. Biasanya kalau ada penyuluhan dari kepolisian, Kocima juga yang membantu menyelenggarakannya,” pungkas Cucu.