Azmi Kautsar Konservasi Alam dengan Bisnis Ramah Lingkungan
Bisnis ramah lingkungan adalah bisnis masa depan, di mana bisnis tidak menyisakan banyak sampah produksi sekaligus tidak merusak alam.

Aspek konservasi alam biasanya terlepas dari strategi bisnis, seakan semua tugas konservasi alam diserahkan pada yayasan dan relawan. Padahal jika kita membuka mata, seluruh aktivitas bisnis di seluruh industri menggunakan energi yang berasal alam.

“Setiap produk yang dibuat manusia kan menggunakan energi alam. Semua aktivitas menyisakan carbon footprint di atmosfer. Mulai dari penggunaan listrik, kendaraan bermotor, bahkan mengirim email,” ungkap Azmi Kautsar, pemilik Parasheyhat (baca: parasehat).

Carbon footprint yang tertinggal di bumi mengancam kelangsungan hidup manusia dalam jangka panjang. Karbon merupakan salah satu elemen dari emisi gas rumah kaca. Efek yang dihasilkan dari emisi gas rumah kaca di antaranya adalah kekeringan, kurangnya air bersih, dan perubahan cuaca secara ekstrim.

Dampak itu akan terasa oleh seluruh umat manusia jika carbon footprint tidak segera diatasi. Solusi utama yang bisa dilakukan adalah mengubah perilaku manusia sehari-hari menjadi gaya hidup sehat/ramah lingkungan. Namun kesadaran bukan hal yang cepat menular.

“Gaya hidup sehat itu awalnya harus dari tahu, lalu sadar, akhirnya jadi kebiasaan dan gaya hidup. Tapi kan itu ga ada yang kasih contoh, apalagi di dunia bisnis. Produk dan profit terus yang dibicarakan,” kata Azmi.

Gaya hidup sehat telah menyatu dengan Azmi sejak dalam lingkungan rumah. Yang paling terlihat jelas adalah pemilahan sampah plastik dan sampah dapur. Sampah plastik akan berakhir di tempat pengolahan sampah plastik, sementara itu sampah dapur dijadikan pupuk organik di taman.

Penerapan gaya hidup sehat itu pun diimplementasikan dalam bisnis. Parasheyhat, brand kombucha yang dirintis Azmi, berawal dari keresahan untuk menularkan gaya hidup sehat.

“Biasanya makanan sehat itu kontradiktif dengan makanan enak, contohnya jamu. Kita ingin mendobrak itu. Makanya kita bikin kombucha. Rasanya masih ada manisnya, oh ada rasa fruity-nya, kita kasih rempah-rempah buat nambah aroma. Jadi makanan sehat bukan sebagai obat, tapi bisa dinikmati sehari-hari,” ungkap Azmi Kautsar, owner Parasheyhat.

Kombucha mengandung asam organik, vitamin B kompleks, vitamin C, enzim hidrolitik, ethanol, karbon dioksida, polifenol, mineral, serta senyawa antimikroba. Semua kandungan yang baik untuk tubuh itu berasal dari proses fermentasi yang dilakukan oleh Symbiotic Culture Of Bacteria and Yeast (SCOBY) terhadap teh manis.

Dengan rasa yang enak dan manfaat yang baik untuk tubuh, kombucha mewakili satu aspek gaya hidup sehat, yakni makanan sehat. Aspek lain yang coba dikembangkan oleh Azmi bersama Parasheyhat adalah kemasan kombucha. Semua produk yang dibuat Parasheyhat telah dipilih agar tidak merugikan alam.

“Untuk kemasan 250 ml kita pakai botol kaca, untuk kemasan 1 liter dan 5 liter kita gunakan plastik food grade,” papar Azmi.

Azmi menyatakan bahwa penggunaan plastik bukanlah sebuah masalah. Bahkan menurut sejarah, plastik ditemukan untuk menyelamatkan alam.

“Penemuan plastik itu kan memang untuk mengurangi masalah kemasan yang terbuat dari kertas. Kemasan dari kertas kan berarti banyak pohon yang ditebang. Plastik itu hadir untuk mengurangi penggunaan kemasan kertas. Dulu campaign-nya plastik itu kemasan yang lebih kuat dari kertas dan bisa digunakan berulang-ulang,” jelas Azmi.

Plastik menjadi masalah besar ketika hanya digunakan sekali pakai saja. Hal itu yang jarang dipikirkan oleh para pebisnis. Padahal solusinya telah lama ditemukan, yakni mendaur ulang plastik. Plastik yang digunakan sekali pakai itu didaur ulang di tempat pengolahan plastik.

“Kita pakai botol plastik sekarang, tapi disertai sistem. Ada kode PET 1 kan, itu kode untuk plastik yang single use. Botol PET itu punya siklus hidup yang panjang. Awalnya digunakan sebagai kemasan minuman, kemudian jadi botol sabun, kemudian jadi plastik bening, kemudian jadi plastik hitam, dengan syarat sampai ke tempat pengolahan plastik,” papar Azmi, “akhirnya penggunaan plastik yang disertai sistem akan mereduksi dampak buruk plastik,” lanjutnya.

Untuk pasar di Ciamis dan Jakarta Azmi menganjurkan penggunaan botol plastik PET 1 sebagai kemasan produknya. Sistem  pengelolaan sampah plastiknya pun dibangun dengan memberikan tempat sampah khusus untuk kombucha Parasheyhat. Azmi sendiri yang akan mengantar botol-botol plastik bekas itu ke bank sampah. Sistem yang dibangun oleh Azmi ini dinamai Kumpul Botol.

Sementara itu, untuk pasar Bandung Raya, Azmi mengarahkan tim untuk menggunakan kemasan botol kaca. Tentunya dibarengi dengan sistem pula yang dinamai Balik Botol.

“Botol kaca itu menghasilkan carbon footprint yang lebih tinggi dari plastik. Jadi kita memang membangun sistem untuk botol kaca lebih dulu daripada botol plastik. Botol-botol kaca yang sudah disebar ke toko-toko itu dikumpulkan lagi. Nanti kita ambil dan masuk proses sterilisasi agar bisa digunakan kembali,” ungkap pria berkaca mata itu.