SOKOGURU, MEDAN - Di salah satu sudut tersibuk Kota Medan, berdiri sebuah pasar yang seakan punya ribuan nyawa. Pusat Pasar Medan—atau Pajak Sentral, sebutan yang akrab di telinga warga lama—hari ini tampak seperti pasar biasa.
Riuh. Penuh desakan langkah dan suara pedagang yang tak pernah benar-benar berhenti. Namun menjelang akhir Januari ini, ada sesuatu yang berbeda berputar di udara. Seakan pasar yang sudah tua itu sedang menarik napas panjang, bersiap menyambut sesuatu yang lebih besar dari hari-harinya yang biasa.
Sedikit yang tahu bahwa tanah tempat pasar berdiri adalah bekas arena pacuan kuda. Dulu warga menyebutnya Pasar Lomba, tempat bangsawan dan rakyat jelata bersatu menyaksikan derap kuda di lintasan tanah. Sebelum menjadi pasar, tempat ini sudah lebih dulu menjadi ruang hidup masyarakat—panggung harapan dan hiburan.
Waktu kemudian berputar cepat. Pada 2 April 1931, pemerintah kolonial memulai pembangunan pasar baru di atas arena pacuan itu. Terhambat Depresi Besar, namun akhirnya selesai pada akhir 1932 sebelum resmi dibuka pada 1 Maret 1933.
Para pedagang kecil masuk, mengisi bangunan itu dengan ikan, sayur, kain, rempah, dan kehidupan yang menghidupi Medan selama puluhan tahun.
Pasar ini tidak pernah menjadi ruang yang tenang. Dua kali kebakaran besar—1971 dan 1978—menghabiskan kios dan barang dagangan. Namun seperti para pedagangnya, pasar selalu bangun kembali. Selalu menemukan cara untuk bertahan, untuk terus menjadi ruang ekonomi rakyat.
Tahun 1990-an, ketika Medan Mall berdiri megah di sebelahnya, Pusat Pasar memilih tidak menyingkir. Ia justru terhubung. Pasar tradisional dan pasar modern berdampingan, menjadikan kawasan itu salah satu pusat belanja terbesar di kota.
Dan kini, tahun 2025, gema masa lalu pasar itu terasa kembali menghangat. Bukan hanya dari cerita lamanya, tetapi dari persiapan sebuah perayaan besar yang akan segera digelar.
FPR 2025 Akan Hadir. Dan Pusat Pasar Seakan Menunggu Untuk Hidup Lagi.
Dalam beberapa hari terakhir, suasana pasar berubah. Di antara aroma bawang dan ikan segar, terdengar uji coba sound system, pemasangan lampu, dan aktivitas panitia yang lalu-lalang. Panggung mulai berdiri, tenda-tenda bermunculan, dan pedagang saling bertanya: “Apa yang akan terjadi di sini?”
Jawabannya adalah Festival Pasar Rakyat (FPR) 2025, sebuah perayaan yang bukan sekadar hiburan, tetapi upaya mengembalikan denyut lama pasar ini—denyut yang sudah ada sejak masa pacuan kuda.
Festival ini akan memenuhi lorong-lorong pasar dengan program bermanfaat:
— Asistensi Sertifikasi Halal
— Literasi Keuangan & Digitalisasi Pasar
— Layanan kesehatan gratis
— Aktivasi seni, lomba masak, lomba tari, hingga dongeng untuk anak
Ini bukan hanya event; ini jeda napas. Sebuah penyegaran bagi para pedagang kecil yang bertahun-tahun berdiri di balik lapak, menghidupi keluarganya dari ruang yang sama.
Dan puncaknya, setelah festival dibuka, pasar akan bertransformasi. Dari ruang jual beli menjadi ruang hiburan. Diskoyoks, Osen Hutasoit, hingga Denada Tambunan akan mengguncang Pusat Pasar.
Pembukaan FPR 2025: Suara Taganing yang Akan Menyambungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Pembukaan festival akan ditandai pemukulan Taganing—alat musik tradisional Batak. Sebuah simbol yang tepat bagi pasar yang dulunya panggung pacuan kuda, lalu menjadi pasar rakyat, dan kini bersiap menyambut babak baru.
Suara Taganing itu, saat dipukul nanti, bukan hanya tanda dimulainya festival. Tetapi tanda bahwa pasar ini kembali bernapas.
Dan Di Baliknya, Ada Ulang Tahun ke-35 Adira Finance Syariah
Tahun ini Adira Finance merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Menariknya, mereka memilih merayakannya bukan di hotel mewah, bukan di ballroom megah, tetapi di tengah pasar. Di jantung ekonomi rakyat.
Pilihan itu terasa seperti pesan: semangat tumbuh bersama masyarakat tidak pernah berubah.
Semua Akan Dimulai Sebentar Lagi.
Dalam hitungan jam, panggung musik akan menyala. Doorprize akan dibagikan. Fun Walk dan Zumba akan mengalir di lorong yang dulu pernah terbakar. Pedagang, warga, anak-anak, semuanya akan menyatu dalam dua hari perayaan.
Dan setelah lampu panggung padam nanti, satu hal mungkin akan terukir: bahwa Pusat Pasar bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah ruang hidup yang layak dirayakan, dijaga, dan diberdayakan.
FPR 2025 belum dimulai. Tetapi pasar tua itu sudah terasa berdebar. Seolah ia bersiap kembali berlari. Bukan lagi pacuan kuda. Tapi pacuan harapan. (*)