BERITA
Teng-teng Puspasari: Camilan yang Bertahan Hingga Sembilan Generasi
Puspasari yang disematkan di kemasan teng-teng pun berasal dari nama nenek buyutnya. Sehingga menjadi ciri khas bahwa teng-teng Puspasari merupakan cemilan asli yang diproduksi nenek buyutnya.
OlehRauf Muhammad
09 Agustus 2022 07:57
featured image
Teng-teng dari Puspasari di stand UMKM Desa Sukasari, Kec. Sukasari

Menjaga makanan tradisional yang diturunkan lintas generasi tidaklah mudah. Apalagi di masa kini, makanan “jadul” kerap tak dikenal masyarakat, khususnya generasi muda. Itulah salah satu kendala Bapak Ahmad sebagai generasi ke sembilan yang masih mempertahankan teng-teng Puspasari buatan nenek buyutnya.

“Kalau dulu, bentuk teng-teng tidak seperti sekarang yang kebanyakan bentuknya kotak. Zaman dulu kalau teng-teng jadi, biasanya akan dikonsumsi seperti mengonsumsi nasi di piring,” jelas Bapak Ahmad, “bentuknya tidak karuan, tidak seperti sekarang yang bentuknya kotak.”

Puspasari yang disematkan di kemasan teng-teng pun berasal dari nama nenek buyutnya. Sehingga menjadi ciri khas bahwa teng-teng Puspasari merupakan cemilan asli yang diproduksi nenek buyutnya.

 “Selain bentuknya yang berubah, saya kerap berinovasi dalam segi bahan dasar. Kalau dulu, bahan dasarnya selalu dari beras. Sekarang teng-teng bisa dikonsumsi dengan bahan dasar jagung,” jelasnya.

Bagi dirinya, memproduksi teng-teng lintas generasi ini terbilang mudah. Namun, yang menjadi kendala paling signifikan dari pembuatannya adalah dari segi mesin pembuatannya yang menggunakan mesin mirip mesin penggilingan semen. Pasalnya, tanpa ada mesin tersebut, teng-teng tidak bisa diproduksi.

“Kalau makanan itu harus ikhlas, kata orang tua itu harus legowo. Kalau makanan tidak laku itu bisa dibagikan. Kalau laku ya, alhamdulillah,” ungkap Bapak Ahmad.

Sebagai seseorang yang menjaga makanan tradisional, Bapak Ahmad terus berupaya agar makanan tradisional dapat diterima dan masuk di semua kalangan. Karena, baginya cukup sulit membawa makanan tradisional untuk bersaing dengan makanan kekinian. Kini, selain memproduksi teng-teng, Bapak Ahmad dan kakaknya menjadi pendiri produksi cilok sarjana yang sudah terpasarkan ke berbagai daerah.

Editor Sokoguru: Ahmad Yunus