BERITA
Tanam Kelor di Pekarangan, Tambah Pendapatan Keluarga
Di Desa Cikadut, tani pekarangan menjadi tren baru untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Tanaman kelor dipilih karena memiliki manfaat yang banyak, sekaligus mencegah erosi di kawasan Bandung Utara.
OlehRauf Muhammad
21 Juni 2022 08:21
featured image

sokoguru.id—Tani pekarangan menjadi solusi jitu tambahan pendapatan keluarga di Desa Cikadut, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. Di sana, tanah pekarangan yang kosong dimanfaatkan untuk penanaman pohon kelor.

“Alhamdulillah, awalnya tanah ini kosong dan tidak bermanfaat. Sekarang ditanami kelor, jadi untuk kebutuhan dapur sehari-hari ada, untuk dijual ada,” ungkap Asep, petani pekarangan di Desa Cikadut.

Penanaman kelor ini diinisiasi oleh Yayasan Odesa Indonesia. Kelor menjadi solusi bagi kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan. Selain itu, kelor juga mampu mencegah erosi.

“Tanam kelor ini tujuannya untuk dimakan sehari-hari. Karena kandungan gizi dalam kelor ini sangat tinggi. Baru setelah kebutuhan dapur terpenuhi, bisa disetor untuk dijual,” kata Asep.

Kandungan gizi daun kelor yang tinggi telah dibuktikan di banyak laboratorium. Hasil dari penelitian membuktikan bahwa kelor memiliki vitamin A 4x lipat lebih banyak dari wortel, vitamin B 4x lipat daging sapi, vitamin C 7x lipat jeruk, kalsium 14x lipat susu, kalium 3x lipat pisang, zat besi 3x lipat jamur, asam amino 1,5x lipat telur, dan antioksidan 37x lipat anggur.

“Pembibitan kelor diserahkan sepenuhnya ke petani pekarangan. Di sini kebanyakan kerjanya buruh harian lepas. Jadi kalau tidak ada borongan ya menganggur. Kalau di pekarangan ditanami kelor, jadinya ada tambahan buat sehari-hari,” kata Asep.

Satu bibit kelor berusia 6 bulan biasa dihargai Rp. 20.000,-. Penambahan nilai ekonomi di masyarakat juga terjadi saat daun kelor dipanen. Daun kelor yang dikeringkan bisa dikonsumsi seperti teh. Harga jual daun kelor kering berkisar Rp. 40.000,- per 50 gram.

Editor Sokoguru: Ahmad Yunus