Keuangan

Suku Bunga KUR 3 persen: Relaksasi Program Kredit Rakyat?

Kebijakan relaksasi kredit rakyat sebesar 3%, demi keberlangsungan UMKM

Sokoguru.id – Dalam skema perekonomian nasional, suku bunga masih tetap menjadi acuan pokok tetapkan kebijakan bagi keberlangsungan UMKM. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), per Februari 2022 Bank Indonesia diperkirakan masih menahan suku bunga acuan di level 3,50 persen. Hal ini turut mempengaruhi pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pada tahun ini, pemerintah memberikan subsidi bunga 3 persen untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Juni 2022. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, “Tahun 2022 ini, pemerintah kembali meningkatkan plafon KUR menjadi Rp.373,17 triliun serta memperpanjang tambahan subsidi bunga KUR 3 persen sehingga suku bunga KUR tersebut berlanjut hingga akhir Juni 2022” Ucapnya, dikutip langsung dari laman resmi Kemenko Perekonomian pada, 18 Januari lalu. 

Tak hanya itu, peningkatan juga tidak hanya diikuti oleh nomial KUR, namun pada jumlah UMKM penerima KUR. “KUR ini akan teru kita naikkan hingga porsi kredit perbankan minimal mencapai 30 persen untuk UMKM di tahun 2024, jadi ini tantangan juga. Sekarang baru 19,8 persen. Kalau nanti 30 persen kredit perbankan untuk UMKM, nah UMKM bisa menyerap tidak?,” respon Teten. 

Tinggi nya porsi KUR ditambah suku bunga yang lebih rendah, ditujukan sebagai strategi untuk mendorong pemulihan ekonomi bagi UMKM. Relaksasi kebijakan terkait KUR ini, menjadi bukti kehadiran pemerintah dalam mendorong pemulihan ekonomi UMKM yang selama dua tahun ini terdampak pandemi, hal itu dijelaskan oleh Menkop UKM, Teten Masduki, dalam lama resmi Kemenkop UKM. “Meskipun ekonomi sudah mulai normal tapi kita tetap antisipasi dinamika ekonomi dengan memperkuat pemulihan ekonomi UMKM melalui porsi KUR yang ditambah. Dengan rendahnya bunga serta porsi yang semakin besar ini, jelas pemerintah memihak pemulihan ekonomi UMKM.” Tutur Teten. 

Selanjutnya, Teten menegaskan bahwa pemerintah akan terus focus untuk melakukan pendampingan terhadap UMKM yang menerima kredit. Hal ini dibutuhkan agar kredit yang diterima UMKM terjaga dari potensi masalah. 

Airlangga juga menyampaikan bahwa, pencapaian atas program KUR ini akan diutamakan untuk sektor-sektor produktif. Hal tersebut dijadikan acuan untuk mendorong produktivitas penerima KUR serta mendorong terciptanya nilai tambah. “Sektor pertanian menjadi sektor terbesar penerima KUR, saat Covid-19 lalu sektor pertanian lajunya sangat kencang. Ini patut diapresiasi,” ujar Airlangga.