Kuliner

Kopi Tampomas: Dari Cimalaka hingga Australia

Sebagai kopi buhun, kopi Tampomas menjadi kopi yang digemari untuk diolah kembali oleh daerah lain. Biji kopi yang dirasa sudah cocok untuk diolah adalah biji kopi yang sudah merah. Bila belum merah, Bapak Tatang dan kelompoknya tidak akan mengolah kopi.

Bapak Tatang dengan Kopi Tampomas di stan UMKM Cimalaka

Cimalaka sebagai daerah yang dekat dengan Gunung Tampomas memiliki kopi khas sebagai produk unggulannya. Berlokasi di Desa Padasari. Bapak Tatang dan kelompoknya mengolah sendiri kopi Tampomas ini.

“Kopi Tampomas ini khusus mengolah kopi robusta saja,” tutur Bapak Tatang, “asli kopi zaman dulu atau kopi buhun. Kopinya sudah ada dari dulu. Cuman kalau dulu masih milik bersama, jadi kalau butuh tinggal ambil. Sekarang produksi kopinya sudah 60 hektare di lahan Tampomas,” jelas Bapak Tatang.

Sebagai kopi buhun, kopi Tampomas menjadi kopi yang digemari untuk diolah kembali oleh daerah lain. Biji kopi yang dirasa sudah cocok untuk diolah adalah biji kopi yang sudah merah. Bila belum merah, Bapak Tatang dan kelompoknya tidak akan mengolah kopi.

“Kalau di Tampomas, memang yang dikhususkan adalah petik merah. Jadi, kami tidak mengolah kopi yang belum matang. Kalau sampai merah, hitungan panennya tiap satu tahun sekali,” ungkap Bapak Tatang.

Bagi Bapak Tatang, mengolah kopi memiliki tantangan tersendiri karena memiliki sensitivitas yang tinggi. “Kalau masalah pengolahan, tentunya tergantung cuaca. Kalau tidak bisa kering dalam waktu yang cepat dan malah berjamur. Mau tidak mau, harus dicuci dan dijemur dari awal,” jelas Bapak Tatang.

Ketelatenan Bapak Tatang dan kelompoknya membuat kopi Tampomas ini terbang ke Jepang dan Australia untuk mengikuti festival kopi. Harga kopi Tampomas ini cukup terjangkau, misalnya Rp. 60.000 pembeli sudah mendapatkan 200 gr bubuk kopi yang siap disajikan. Selain menjual kopi olahan, tanaman kopi bisa didapatkan bagi pembeli yang berminat untuk membudidayakan kopi.