BERITA
Aka’al Shop: Kenalkan Berbagai Produk ‘Zero Waste’
Berkenalan dengan Aka'al shop, toko serba ada yang menjual produk lokal ramah lingkungan dengan harga murah dan berkualitas tinggi.
OlehSalsabilla Ramadhanty
20 Juni 2022 07:30
featured image

Sokoguru.id – Tanpa disadari, banyak sekali kita jumpai sampah kemasan sekali pakai yang ada di sekitar kita. Biasanya, didominasi oleh sampah plastik yang sulit terurai. Sehingga sampah terus menumpuk, tak jarang melebihi volume rata-rata sampah yang dihasilkan dalam sehari. Peningkatan volume sampah, merupakan alasan terbesar pencemaran lingkungan.

Solusi yang bisa dilakukan mengurangi sampah plastik, yakni dengan inovasi zero waste product atau gaya hidup bebas sampah. Kebiasaan ini dapat mencegah kerusakan ekosistem lebih baik, yang bisa dilakukan masyarakat.

Inovasi akan produk tersebut, menjadi alternatif yang sehat sehingga pola hidup nol sampah pun dapat berkembang di tengah lingkungan masyarakat hari ini. Perubahan itu akan berdampak juga pada produsen penyedia perlengkapan. Sebab, jika masyarakat mulai mengubah kebiasaan mengonsumsi produk-produk sekali pakai, maka akan berdampak signifikan terhadap aspek produksi.

Walau demikian, faktanya masih banyak masyarakat umum yang belum mengetahui terkait pentingnya memilih alternatif produk sehari-hari yang ramah lingkungan. Misalnya saja, dari data sampah kota Bandung menyebutkan, volume sampah meningkat dalam kurun waktu 13 tahun terakhir sebanyak 22 juta ton per kubik. Artinya, dalam sehari, masyarakat bisa menghasilkan setidaknya 4 ribu sampah sekali pakai.

Minimnya edukasi di tengah masyarakat, menjadi tantangan tersendiri hari ini. Khususnya bagi produsen penyedia produk sehari-hari. Sehingga pilihan kebutuhan bagi konsumen, belum banyak tersedia.

Pencegahan lebih lanjut di tingkat konsumen, menjadi cara preventif yang signifikan dalam mengurangi sampah plastik. Bagi konsumen, salah satu yang bisa dilakukan adalah cerdas memilih alternatif produk yang ramah untuk lingkungan.

Selama ini, penimbunan sampah konsumsi yang membludak selalu diobati dengan pengolahan sampah seperti pembuatan ecobrick, recycle sampah, hingga bank sampah. tetapi langkah tersebut masih kurang efisien, sebab penimbunan sampah masih akan terus menjadi permasalahan, ditambah kurangnya edukasi meminimalisir sampah di kalangan masyarakat. Maka kontrol yang lebih efisien, berada di tangan konsumen sendiri dalam mengatur berapa banyak penggunaan sampah yang dihasilkan per hari.

Aka’al Shop, adalah salah satu gerai yang menyediakan produk alternatif tersebut. Produk berbahan organik dari Aka'al shop memerhatikan setiap proses pembuatan, yang menggunakan sistem suistainable environment.

Berawal dari pola hidup

Toko kebutuhan serba ramah lingkungan itu,  berada di jalan Teuku Umar no. 5, Dago Kota Bandung. Berdiri sejak 29 Mei lalu dengan sistem kerjasama bersama berbagai produsen lokal ramah lingkungan yang tersebar di berbagai daerah di Bandung.

Menurut asisten toko, Lita, semua perlengkapan yang dijual di Aka’al shop merupakan hasil dari penjaringan berbagai produk ramah lingkungan lokal Bandung. Macam dan varian produknya yang banyak,  membuat alternatif pilihan bagi kebutuhan sehari-hari. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah penumpukan sampah sekali pakai.

“Jadi, sistem kami ini dimaksudkan untuk mengajarkan pembeli untuk hidup hemat. Dengan membeli secukupnya saja,” ucap Lita saat diwawancarai tim Sokoguru pada Minggu, 5 Juni 2022.

Hal itu dibenarkan oleh pemilik toko, Jane Sanjaya, alasan ia membuka toko green produk ialah untuk mengajarkan lebih lanjut kepada masyarakat kota Bandung khususnya agar mengubah pola hidup lebih ramah lingkungan.

“Pertama, saya cari dulu yang lokal-lokal di bandung, dan banyak produk organic bandung yang bagus-bagus,” tutur Jane.

Ia meneruskan, ide usaha ini berawal dari pola hidup sehat yang sudah Jane terapkan sehari-hari. Konteks gaya hidup sehat versinya, diharapkan dapat diikuti juga oleh masyarakat secara luas. Sebab, zero waste life style, merupakan urgensi sebagai preventif pencemaran lingkungan.

”Awalnya kan memang yang menjalani zero waste life style kan saya Ketika saya dulu sekolah di Autralia itu memang sudah terbiasa tidak memakai plastik,” ucap alumni Monash University itu.

“karena kita kan aku udah terbiasa dengan life style ini dan dilimpahkan ke toko ini, jadi ingin orang-orang juga mengenal zero waste life style itu seperti apa dan how to start, what you have to do. Nah kita ingin mengampanyekan itu awalnya. Jadi ini tuh pola hidup, harus dijadiin kebiasaan,” tambahnya.

Ia pun memaparkan bisnis yang ia jalani tak hanya berawal dari ide pribadinya. Ia bersama tiga pemilik lainnya, mengawali bisnis dari diskusi lingkungan dan Kesehatan.

“itu pertama. Terus kita ngobrol sama temen saya yang namanya jessy. Bisnis sesuatu yang berbau lingkungan karena kedepannya bakal prospek, yang berhubungan dengan bumi. Karena kita belum punya basic bikin produk, akhirnya kita jualan aja.”

Aka’al shop juga, mengadaptasi sistem isi ulang untuk produk-produk seperti handsainitizer, bumbu dapur organik, produk teh, kopi, dan minyak. Sehingga pembeli disarankan membawa wadah masing-masing dari rumah.

Produk Ramah Lingkungan Tak Selamanya Mahal

Secara perlahan, kampanye mengurangi sampah sudah mulai diterima, utamanya kaum muda dan masyarakat perkotaan. Trend positif pola hidup zero waste berimplikasi positif bagi keberlangsungan bumi. Menurut Jane, sesuatu yang diproduksi dari alam, seharusnya bisa Kembali ke alam tanpa merusak alam itu sendiri. “Jadi saya rasa produk organic seperti ini sangat bagus sekali. Cuman di Indonesia, sampah plastik banyak banget. Karena saya tau plastic itu sudah menghancurkan bumi ini,” jelas Jane.

Selama ini, masyarakat mengenal banyak produk organik dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan produk konvensional lain. Banyak faktor yang menyebabkan harga produk organik mahal, sehingga membuat produk berbahan yang berbahaya bagi lingkungan, banyak dijual di pasaran dengan harga jauh lebih murah.

Jane mengakui, biasanya ia membeli produk organik dengan harga yang menguras kantong. Belum lagi, banyak produk organik masih menggunakan pengemasan plastik. Membuat Jane, bersama kedua rekannya mengembangkan ide refill produk organik, tanpa kemasan.

“Kan kebetulan saya ini juga healthy life style, jadi kalau bahan organik harus beli di toko organik dengan bentuk packaging dengan harga yang cukup mahal. Bahan-bahan organik kan lebih mahal dibanding makanan biasa. Kangen sih ada tempat bisa isi refill, sebetulnya ada di bandung tapi kurang lengkap ya, yang paling lengkap tuh adanya di Bali dan kebetulan pemiliknya orang luar,” jelas Jane.

Gaya hidup sehat dan ramah lingkungan yang dilakukan Jane bersama kedua rekannya, akhirnya membuat ketiga perempuan itu melimpahkan ke gerai yang berdiri sekarang ini. Dengan berdirinya Aka’al Shop, ia berharap orang-orang bisa sadar terhadap pentingnya menjaga bumi. Tak hanya dalam rangka pengenalan saja, ia juga bermaksud untuk memberdayakan home industri eco-product yang ada di Bandung.

Jane bekerjasama dengan banyak produsen eco-product. Salah satu produknya adalah Moesakara. Menjual produk makanan ringan seperti cookies, yang berbahan tepung ubi yang diproduksi bebas gluten dan gula. Cocok dimakan bagi kamu yang sedang mendalami program diet, dan cocok dimakan pengidap autism.

“Kami ada Moesakara. Pemilik Moesakara ini bekerjasama dengan komunitas anak-anak penyandang autisme. Karena gizi mereka harus diperhatikan. Gak bisa menginsumsi tepung-tepungan dan gula,” tuturnya.


Tak hanya itu, yang menjadi menarik dari produk lainnya adalah sabun dari olahan minyak jelantah, yakni Sano Living. Sabun ini memiliki dua varian, pertama ada sabun cair yang bisa kamu refill setiap ingin membeli, juga ada sabun padat dengan varian yang bermacam-macam. Sabun dari olahan limbah minyak ini, bisa menjadi alternatif sabun berbahan kimiawi.